Rabu, 19 Desember 2018

Sama-sama Anjlok, BI Bandingkan Rupiah dan Rupee India

Berdasarkan, data RTI dalam seminggu rupiah telah turun 1,38 persen.

Suara.Com
Pebriansyah Ariefana | Achmad Fauzi
Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara. (Suara.com/Ahmad Fauzi)
Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara. (Suara.com/Ahmad Fauzi)

Suara.com - Bank Indonesia (BI) menyebut pelemahan rupiah dan rupee India yang terbesar dibandingkan negara berkembang lainnya. Pelemahan nilai tukar tersebut sudah melemah sejak empat hari lalu.

Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara mengatakan, hal tersebut karena masih defisitnya neraca transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD). Sehingga, rupiah terus melemah terlalu tajam.

‎Berdasarkan, data RTI dalam seminggu rupiah telah turun 1,38 persen.

Sementara, data kurs tengah BI, rupiah, pada 3 Desember rupiah bisa menguat hingga Rp 14.252 per dolar AS , akan tetapi pada 6 Desember rupiah berbalik melemah hingga Rp 14.507 per dolar AS. Dan per hari ini, rupiah kembali melemah di level Rp 14.539 per dolar AS.

"Pelemahan kurs Indonesia dan India lebih besar dibandingkan negara yang lain. Ini karena ekspor barang dan jasa defisit memang itu pasar bereaksi lebih banyak, maka dari itu kita jangan terlena penguatan kita minggu lalu‎," ujar Mirza saat ditemui Komplek Perkantoran BI, Jakarta, Jumat (7/12/2018).

Maka dari itu, tutur Mirza, BI akan berusaha untuk mengurangi CAD. Data BI, pada kuartal II‎I CAD sebesar 3,37 persen dari Produk Domestik Bruto.

Salah satunya, tambah Mirza, dengan mengurangi impor yang tidak perlu dan mendorong ekspor barang jadi.

"Kita juga terus mendorong pariwisata. Jadi mengendalikan impor yang tidak perlu. Kalau impor yang perlu seperti bahan makanan ya tetap impor kalau nggak harganya naik,‎" pungkas dia.

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini