Cara BPJS Ketenagakerjaan dan Polytama Propindo Tingkatkan Mutu Pegawainya

"Cari tahu apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhan dan keinginan karyawan dan gunakan hati,"

Suara.Com
Iwan Supriyatna
Leadership Cafe ke 3 dihadiri lebih dari 70 leader dan praktisi HR perusahaan swasta nasional maupun perusahaan negara. (Dokumen: Kubik Leadership)
Leadership Cafe ke 3 dihadiri lebih dari 70 leader dan praktisi HR perusahaan swasta nasional maupun perusahaan negara. (Dokumen: Kubik Leadership)

Suara.com - Riding New Normal sebutan bagi tahun 2019, dimana adanya dua ekonomi baru, Digital Economy dan Leisure Economy yang mulai menemukan critical mass dan menghasilkan the whole new world dengan jutaan peluang pasar dan bisnis baru.

Kenormalan baru sudah mulai menampakan bentuknya dan setiap pelaku bisnis harus mulai jeli memasang insting bisnisnya agar bisa menyalip pemain lain di tengah kenormalan baru yang bakal lahir.

Strategi terbaru diperlukan dan harus tajam. Di sisi lain, bagaimana para Human Resources atau Human Capital menyiapkan transformasi Sumber Daya Manusia untuk menjalankan strategi tersebut.

Topik tersebut menjadi bahasan pada Leadership Cafe ketiga yang dihadiri lebih dari 70 leader dan praktisi HR perusahaan swasta nasional maupun perusahaan negara.

Pada sesi pertama, membahas tantangan yang dihadapi BPJS Ketenagakerjaan yang mengelola asuransi tenaga kerja Indonesia.

Sesuai dengan survey 2015 Badan Pusat Statistik, struktur umur masih di dominasi produktif (15-64 tahun) sebanyak 183,36 juta jiwa dari jumlah 266,91 juta penduduk Indonesia.

Jumlah itu diprediksi akan bertambah 52 juta jiwa pada 26 tahun mendatang. Jumlah yang sangat besar dan memerlukan perhatian khusus.

Apalagi menurut perkiraan Indonesia akan mengalami puncak bonus demografi pada 2028-2031 yang ditandai ketergantungan terendah, meski di satu sisi masih ada peluang mentransformasikan para penduduk usia produktif bisa bekerja layak dan sejahtera.

Menyadari posisi BPJS yang harus menyediakan jaminan sosial terbaik untuk Indonesia, perusahaan yang memiliki 5.000 SDM dan tersebar di seluruh Indonesia ini pun harus mentransformasi karyawannya baik secara mentality yaitu berintegritas tinggi dan secara kemampuan menjadi global people.

Hal tersebut disampaikan Naufal Mahfudz, Direktur Umum dan SDM BPJS Ketenagakerjaan, yang berkarir lebih dari 25 tahun di bidang Sumber Daya Manusia/Human Capital.

Strategi yang dilakukan Naufal adalah melakukan gaya kepemimpinan yang santai namun mengena.

“Kebetulan komposisi karyawan BPJS lebih banyak gen Y, hampir 70% dengan karakteristik milenial, lebih tanggap pada teknologi, lebih ekspresif dan lebih ingin instant. 30% merupakan gen baby boomer dan X yang memiliki keterampilan teknis cukup mumpuni dan loyal pada perusahaan. Dengan memperbanyak diskusi, sering melakukan employee gathering, terlibat langsung di kegiatan informal yang disukai karyawan, akhirnya meleburkan perbedaan, bahkan mampu mensinergikan kekuatan masing masing gen,” kata Naufal.

Tantangan berbeda dialami Didik Susilo, President Director PT Polytama Propindo yang bergerak di bidang industri petrokimia yang memiliki teknologi Polypropylene.

“Dinamika perubahan VUCA tidak terlalu berdampak pada perusahaan kami, namun kami sudah mulai menyiapkan tim menghadapi digital teknologi, salah satunya dengan mengajak karyawan mulai terbiasa melakukan aktivitas by digital,” ucap Didik.

Pada 2013-2015, bisnis Polytama sempat terhenti, tetapi tidak ada satu orang pun yang di PHK. Perusahaan juga beberapa tahun tidak melakukan penerimaan karyawan, sehingga ada gap di level tertentu.

“Saat ini komposisi karyawan terjadi mix, ada baby boomer dan gen X yang expert secara teknis, dan gen milenial yang bekerja cukup tanggap dan cepat menyesuaikan dengan perubahan. Selain itu, isu mempertahankan karyawan dari godaan pindah ke perusahaan sejenis juga menjadi concern mengingat sangat sedikit orang yang mempunyai spesifikasi teknis di bidang petrokimia,” terangnya.

"Bagaimana meretain mereka dan memastikan koordinasi berjalan lancar di lapangan, adalah fokus kami dalam rangka menjadikan Polytama menjadi pemimpin di industri Polypropylene di Indonesia," Didik menambahkan.

Sesuai milestone yang dimiliki, Didik sudah menyiapkan SDM nya jauh hari sebelumnya. Di 2017 fokus Polytama menyiapkan masa depan dengan strategi breakthrough, di 2018 menyiapkan sistem dan kondisi sustain dan 2019 memperoleh pertumbuhan melalui peningkatan kinerja karyawan.

Apa strategi kunci dalam pengembangan SDM di era VUCA yang sudah berangsur menjadi new norm ini? dr. Amir Zuhdi, Brain Behavioral Expert menyampaikan, dengan melakukan aktivasi di beberapa bagian otak dengan cara F3C, yaitu fokus dalam menentukan visi dan prioritas, fleksibel, memiliki kecakapan mengelola emosi sehingga mudah beradaptasi dengan segala perubahan, fast dalam membuat sistem atau aturan yang mudah dijalankan, dan kolaborasi, adanya team yang saling memahami dan memiliki chamistry yang sama sehingga terwujud dream team.

Di samping itu dr Amir juga mengingatkan perlunya tim yang tangguh dan gesit melakukan penyesuaian atas strategi yang diambil perusahaan.

Tangguh yang dimaksud, bagaimana cukup kuat untuk menahan kondisi buruk atau penanganan terhadap situasi yang tidak diinginkan, disamping mampu menanggung kesulitan atau rasa sakit yang mungkin muncul.

Adapun gesit atau agility, memiliki mental yang cepat dan tajam sehingga dapat berfikir dan mengerti kondisi dengan cepat, mampu cekatan menyesuaikan dan beradaptasi terhadap perubahan.

Jamil Azzaini, Inspirator SuksesMulia dari Kubik Leadership yang menggagas Leadership Cafe mengingatkan para leader untuk mempertajam strategi agar tidak tersalip dan tertinggal dan mengubah pendekatan pada karyawan.

“Buka mata lebar lebar, cari tahu apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhan dan keinginan karyawan dan gunakan hati, untuk mendekati mereka. Sekali Anda dapat menemukan kebutuhan keinginan dan benar dalam mendekati mereka, produktivitas karyawan akan melejit dan mampu menghasilkan hal-hal besar," kata Jamil.

"Perbedaan generasi adalah anugrah dan disikapi dengan positif karena masing-masing mempunyai kelebihan. Teruslah untuk tumbuh dan membuka wawasan seluas-luasnya agar mendapatkan keuntungan dari perubahan yang tengah terjadi,” Jamil menambahkan.

Di sesi kedua, beberapa peserta antusias menanyakan seputar topik yang disampaikan. Mereka mengaku puas dengan forum yang selalu menghadirkan expert dan leader yang dapat diambil pengalaman dan pengetahuannya.

Leadership Cafe merupakan acara dua bulanan yang dilakukan secara gratis agar semakin banyak leader dan SDM mampu menghasilkan talent terbaik yang siap membangun Indonesia menuju SuksesMulia.

Komentar

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini