Minggu, 17 Februari 2019

Larangan Perayaan Valentine Jadi Pil Pahit Bagi Pedagang Bunga

Larangan merayakan Hari Valentine berimbas pada turunnya pendapatan para pedagang bunga.

Suara.Com
Iwan Supriyatna | Stephanus Aranditio
Larangan Perayaan Valentine Jadi Pil Pahit Bagi Pedagang Bunga
Umi (40) salah satu pedagang bunga di Pasar Rawa Belong. (Suara.com/Stephanus Aranditio)

Suara.com - Kontroversi larangan merayakan Hari Kasih Sayang atau Hari Valentine berimbas pada turunnya pendapatan para pedagang bunga di Pasar Rawa Belong , Jakarta Barat. Mereka mengaku omset turun hingga 60 persen.

Umi (40) salah satu pedagang bunga mengakui, larangan merayakan Hari Valentine yang belakangan ramai digaungkan membuat bunga dagangannya sepi peminat.

"Tahun ini malah merosot, bukannya naik, ya saya rasa itu penyebabnya (larangan merayakan Valentine), tiap tahun bagi kami ini pengecer bukannya naik malah turun terus, anak sekolah aja sudah jarang yang beli," kata Umi kepada Suara.com, Rabu (13/2/2019).

Penurunan penjualan di Hari Valentine ini disebutnya sudah berlangsung dua tahun terakhir meski harganya tidak naik signifikan.

"Dulu 2015-2016 masih ramai tuh yang beli sampai stok bunga habis, tapi mulai tahun 2017 penjualan turun sampai 60 persen, stoknya kelebihan sekarang," jelasnya.

Dia juga membandingkan penjualan di momen Wisuda atau Hari Guru lebih banyak pembeli yang memborong bunga ketimbang Hari Valentine.

"Kalau Wisuda atau Hari Guru itu justru yang banyak peminatnya sekarang," tutup Umi.

Seperti diketahui larangan merayakan Hari Valentine mulai banyak digencarkan oleh pemerintah di sejumlah daerah di Indonesia seperti di Aceh, wilayah Jawa Barat, Depok, Bondowoso, Blitar, hingga Nusa Tenggara Barat.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini