CoLiving Jadi Kebutuhan Kaum Milenial Indonesia

Konsep coliving atau berbagi ruang berekspresi semakin populer di kalangan milenial.

Suara.Com
Iwan Supriyatna | Muslimin Trisyuliono
CoLiving Jadi Kebutuhan Kaum Milenial Indonesia
Ilustrasi milenial. (Shutterstock)

Suara.com - Konsep ekonomi berbagi telah mengubah dan membongkar tatanan dunia. Mulai dari layanan transportasi, ruang kerja hingga hiburan online, telah mengubah gaya hidup masyarakat modern di era ini.

Konsep coliving atau berbagi ruang berekspresi semakin populer di kalangan milenial. Ada dua hal yang membuat konsep ini menjadi popular yakni keterjangkauan dan komunitas.

Milenial dengan dana yang terbatas dan ingin menabung akan sangat tertolong dengan konsep coliving. Konsep ini menawarkan solusi yang murah dan lebih terjangkau bagi milenial yang ingin memiliki hunian sendiri.

Keterasingan sosial akibat menjamurnya media sosial dan teknologi juga membuat hidup di komunitas besar dengan kamar tidur pribadi dan berbagi ruang bersama menjadi menarik.

"Coliving pada dasarnya adalah pandangan baru terhadap ide lama, yang dibayangkan oleh generasi milenial yang menghargai hal-hal seperti keterbukaan dan kolaborasi, jejaring sosial, dan ekonomi berbagi," kata Peony Tang, Direktur PT Setiawan Dwi Tunggal (SouthCity), Selasa (9/4/2019).

Banyak pengembang di negara maju seperti China, Hong Kong, dan Singapura memanfaatkan tren ini dengan membangun ruang coliving dengan kamar tidur dan kamar mandi pribadi kecil, tetapi ruang bersama yang besar dan fasilitas umum.

Konsep ini ternyata digemari dan menjadi tren hunian baru.

Laporan terbaru Jones Lang LaSalle (JLL) perusahaan riset dan manajemen properti global menyebutkan, cepatnya proses urbanisasi telah mengubah cara berhuni dan tempat tinggal manusia.

“Kami melihat makin intensifnya permintaan terhadap alternatif pilihan hunian yang terjangkau di seluruh kota-kota Asia Pasifik,” kata Rohit Hemnani, COO and Head of Alternatives Capital Markets JLL Asia Pacific.

Populasi anak muda yang besar serta proses urbanisasi di Indonesia yang sangat cepat mendorong terjadinya pertumbuhan permintaan untuk model hunian seperti coliving ini.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk usia kerja atau di atas 15 tahun per Agustus 2018 sebanyak 194,7 juta jiwa.

Dari angka tersebut sebanyak 124 juta jiwa sudah bekerja atau mampu menyewa dan membeli hunian, sementara sejumlah 16,5 juta jiwa masih sekolah.

Jumlah ini jelas lebih banyak dari negara mana pun di Asia Tenggara. Karena itu, tak mengherankan jika proyek-proyek transportasi massal yang akan datang juga menjanjikan peluang bagi para pemilik property coliving.

Konsep coliving tak sekedar berbagi ruang dan fasilitas hidup. Dewasa ini, tren coliving juga meluas pengertiannya.

“Hunian coliving merupakan bentuk hunian modern di mana penghuninya bukan hanya berbagi ruang dan fasilitas, tetapi juga berbagi minat, keterampilan, sumber daya, nilai, dan impian mereka dengan orang-orang inspirasional lainnya,” ujar Peony Tang.

Salah satunya adalah Apartemen The Parc, SouthCity. Hunian coliving pertama yang dibangun oleh pengembang PT Setiawan Dwi Tunggal di Selatan Jakarta ini memenuhi kriteria sebagai hunian coliving yang efisien dan dibutuhkan oleh kaum milenial yang mengutamakan kenyamanan dan efisiensi.

“Konsep coliving yang kami tawarkan berbeda dengan hunian lainnya. Kami memberi kesempatan bagi para penghuni untuk berkomunitas dan berkolaborasi, namun tetap mengutamakan kenyamanan, The Parc adalah hunian yang dirancang untuk mendukung kehidupan yang lebih baik. Ini adalah gagasan dari ide yang sudah ada, dirancang bagi kebutuhan generasi milenial yang cenderung menghargai keterbukaan, kolaborasi, jaring sosial, dan bisnis," ujar Peony.

Menurut Peony, The Parc memberikan fasilitas bagi kaum milenial untuk berinteraksi dan berkolaborasi dengan penghuni lainnya, lewat fasilitas yang ditawarkan yakni coworking space dengan free Wi-Fi.

Dengan demikian, kebutuhan kaum milenial untuk berkolaborasi serta berinteraksi dengan para penghuni The Parc yang tidak hanya dalam bekerja tetapi juga berteman dapat terwujud.

“Bahkan, ke depan, akan banyak event komunitas yang menarik serta inspiratif. Tidak hanya itu juga The Parc memiliki banyak fasilitas seperti multi-function hall, club hose, gym, 50m Olympic sized pool, jogging track sepanjang 1 km, badminton court dan lain sebagainya,” kata dia.

Associate Director SouthCity, Stevie Faverius Jaya mengatakan, dengan populasi milenials yang mencapai 60% demografi Indonesia, menjadi peluang bagi pihaknya untuk memasarkan The Parc.

Menurut Stevie, pihaknya memiliki program yang bisa meringankan milenial dalam memiliki hunian apartemen. Salah satunya adalah dengan program ‘Nabung DP’.

“Melalui program ini, milenial hanya perlu mencicil DP 20% sekitar Rp 3,3 jutaan hingga 24 kali. Setelah itu dilanjutkan dengan mencicil KPA sebesar Rp 3 juta per bulan, yang artinya dalam satu hari, para calon konsumen hanya perlu menyisakan Rp 99,000 per hari,” kata dia.

Komentar

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini