Sunyoto, Pengusaha Mebel Rotan Ini Produknya Kian Mendunia

Mebel-mebel berkualitas miliknya dikirim ke luar negeri untuk kebutuhan ekspor.

Suara.Com
Fabiola Febrinastri | Dian Kusumo Hapsari
Sunyoto, Pengusaha Mebel Rotan Ini Produknya Kian Mendunia
Sunyoto seorang pengusaha mebel dari kayu rotan yang sukses merambah pasar Internasional (Dok : LPDB).

Suara.com - Sunyoto, seorang pengusaha mebel dari kayu rotan tak menyangka, bisnisnya yang telah dijalani selama 20 tahun sampai saat ini masih bisa tetap eksis. Rona bahagia Sunyoto pun tak bisa disembunyikan lagi dari raut wajahnya. 

Di bawah bendera Mutiara Rotan, produk yang dihasilkan Sunyoto kini bukan hanya dikenal di Indonesia tapi juga mendunia. Mebel-mebel berkualitas miliknya dikirim ke luar negeri untuk memenuhi kebutuhan ekspor, serta pabrik-pabrik besar di sejumlah wilayah di Indonesia.

Kisah sukses Sunyoto membangun bisnis kerajaan mebel telah memberikan warna dan cerita sendiri bagi setiap pelaku UMKM di daerahnya. Saat ditemui di rumahnya, warga Desa Trangsang, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah ini bercerita tentang usahanya merintis bisnis mebel yang dimulai dari modal Rp 0. 

Krisis moneter pada 1998, membuat ia harus berhenti bekerja sebagai buruh di pabrik mebel. Sadar bahwa dirinya memiliki bakat dan kreativitas merakit mebel, ia pun mencoba keberuntungannya dengan membuat usaha sendiri di samping rumahnya.

“Saya memang pernah berpikir, tidak mau selamanya menjadi buruh. Kebetulan waktu itu krisis moneter. Tahun 1998, saya berhenti bekerja, dan mulai mencoba membangun usaha baru di dunia yang sama dengan modal nekat, alias modal nol rupiah. Alhamdulillah, sampai saat ini terus berkembang," ujarnya.

Di masa-masa sulit itu, Sunyoto hanya mengambil pesanan dari sejumlah pabrik yang bahan bakunya juga diambil dari perusahaan tersebut. Ia kerjakan dengan tangan sendiri tanpa karyawan.

Pelan-pelan dari hasil tabungan yang ia simpan, Sunyoto mulai membeli bahan baku sendiri secara kecil-kecilan. Ia lalu merekrut empat karyawan.

Ia yakin bisnisnya akan terus meningkat, karena sudah memiliki banyak jaringan dengan sejumlah pabrik. Hanya saja, salah satu kendalanya ada di modal.

Dari situ, Sunyoto memberanikan diri untuk mengajukan pinjaman modal dari bank konvensional. Namun karena bunganya terlalu tinggi, ia tak mau melanjutkan pinjaman.

Untuk melanjutkan usahanya, ia kemudian beralih ke BPR Kartasura Makmur dan mendapatkan pinjaman bunga lunak sebesar Rp 50 juta. 

Pinjaman bunga lunak ini merupakan program dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDB - KUMKM), yang bekerja sama dengan sejumlah BPR di Tanah Air sebagai lembaga penyalur.

Sunyoto tertarik mengajukan pinjaman, karena bunganya jauh lebih murah dibandingkan bank konvensional, yaitu 0,85 persen per bulan. Pinjaman modal itu dimanfaatkannya untuk mengembangkan bisnis, terutama untuk menambah bahan baku dan peralatan pabrik.

Bermitra dengan BPR Kartasura Makmur pada 2014, kini bisnis Sunyoto kian besar dan berkembang pesat. Karyawan pun bertambah menjadi 24 orang.

Pasarnya tidak hanya dalam negeri, tapi juga luar negeri. Permintaan pesanan pun terus meningkat.

“Permintaan itu ada yang dari Jerman, Australia, Kanada dan Prancis. Jenisnya macam-macam, ada kursi, meja, keranjang bayi, ada juga peti mati. Kita kirim melalui pabrik-pabrik yang sudah bermitra lama dengan kita. Dalam satu bulan, kita bisa kirim satu kontainer," ujar Sunyoto.

Kreativitas menciptakan inovasi baru adalah strategi yang terus dibentuk oleh Sunyoto untuk melanjutkan usahanya agar terus berkembang. Ia merasa harus mampu membuat pesanan sesuai dengan yang diinginkan pembeli.

Hebatnya, untuk menciptakan inovasi baru, Sunyoto dan seluruh karyawan belajar secara otodidak. 

“Yang penting kan kita sudah punya ilmu dasarnya. Tapi memang kalau modelnya baru, kita harus eksperimen dan kadang butuh waktu agak lama. Semua tidak ada masalah, bisa kita pelajari," ujar lelaki yang hobi bermain sepeda itu. 

Desa Trangsang sudah lama dikenal sebagai desa wisata kampung rotan. Mayoritas warga bekerja sebagai pengrajin rotan.

Sunyoto melihat, prospek bisnis mebel rotan ke depan akan terus maju dan berkembang.  Apalagi permintaan pasar terus meningkat.

"Zaman memang sudah semakin modern, tapi kecenderungan orang suka terhadap barang yang unik-unik dan ini tidak akan mati, termasuk kerajinan tangan. Yang penting kreasi kita saja," tandasnya. 

Makmur Bersama UMKM 
BPR Kartasura Makmur berkerja sama dengan LPDB - KUMKM pada 2014. Kala itu, Direktur Utama BPR Kartasura Makmur, Indrayani Pribadi, mendapatkan informasi mengenai LPDB saat mengikuti kegiatan Perbarindo di Solo, Jawa Tengah. 

Tahun tersebut, BPR yang dipimpinnya mendapatkan pinjaman sebesar Rp 2 miliar.

“Total Rp 2 miliar itu kita kucurkan ke para UMKM yang masih kecil-kecil. Itu jumlahnya kira-kira ada 100, tapi terus kita bina, dan sekarang usaha mereka sudah semakin baik dan semakin besar.  Misalnya untuk UMKM produksi tahu, awalnya pinjam Rp 15 juta, kini sudah bisa ambil kredit  Rp 400 juta," ujar Indrayani.

Dengan adanya LPDB - KUMKM, Indrayani merasakan performa BPR Kartasura Makmur semakin baik, karena masyarakat semakin banyak yang mengajukan pinjaman bunga lunak. Jika menggunakan program reguler, bunganya bisa 1,2 persen, namun di LPDB bunganya hanya 0,85 persen.

“Masyarakat jadi semakin banyak mengajukan pinjaman ke kita, karena ada program bunga yang lebih murah. Otomatis kita juga semakin dikenal dan dipercaya masyarakat," tambahnya.

Menurutnya, program LPDB - KUMKM telah banyak memberikan manfaat dan keuntungan, bukan hanya pada BPR tapi juga para pelaku UMKM. Hal ini selaras dengan tagline BPR Kartasura Makmur, "Menuju Kemakmuran Bersama."  

Indrayani menyebut, memang tidak semua UMKM bisa mengajukan pinjaman bunga lunak, ada standar kriteria yang diterapkan. Pertama, harus dipastikan usaha itu mampu melakukan produksi dengan baik.

Kedua, produksi yang dihasilkan menyangkut kebutuhan orang banyak, dan ketiga, tidak memiliki masalah kredit dengan bank lain.

Ia melihat, keberadaan LPDB - KUMKM sangat dibutuhkan masyarakat, karena tidak ada bank  yang mau menawarkan pinjaman dengan bunga rendah seperti LPDB - KUMKM. Indrayani berharap, LPDB - KUMKM bisa tambah maju dan berkembang dengan beragam inovasi dan layanan baru, serta memudahkan perbaikan ekonomi masyarakat.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini