Jaga Eksistensi Warung Tradisional, Envy Technologies Bikin Aplikasi Ko-In

Penurunan jumlah warung tradisional semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir.

Suara.Com
Dythia Novianty | Tivan Rahmat
Jaga Eksistensi Warung Tradisional, Envy Technologies Bikin Aplikasi Ko-In
Envy Technologies luncurkan aplikasi Ko-In di Jakarta, Selasa (19/6/2019). [Suara.com/Tivan Rahmat]

Suara.com - Perlahan tapi pasti, jumlah warung tradisional di Indonesia kian menurun, seiring menjamurnya minimarket dan toko swalayan di seluruh wilayah Indonesia. Menurut President Director Envy Technologies Indonesia Tbk., Mohammad Sopiyan bin Mohammad Rashdi, penurunan jumlah warung tradisional semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir.

"Dulu, warung tradisional ada 1,6 juta di seluruh Indonesia. Namun 2-3 tahun terakhir turun menjadi 1,4 juta karena tergusur minimarket dan toko swalayan," kata Sopiyan di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (18/6/2019).

Padahal, menurut Sopiyan, warung tradisional masuk dalam sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan perputaran bisnis paling cepat.

Tidak ingin hal tersebut terus berlanjut, pihaknya berinvestasi melalui PT Ritel Global Solusi untuk membuat aplikasi Ko-In (Toko Indonesia).

Melalui aplikasi Ko-In, Envy Technologies ingin agar warung tradisional di Indonesia hidup kembali dengan sentuhan digital.

"Di sinilah kami menginginkan UMKM di Indonesia kembali hidup. Karena perputaran ekonomi paling cepat ada di sektor itu," lanjut Sopiyan.

Meski tidak menyebutkan nilai investasi untuk aplikasi ini, Sopiyan mengatakan bahwa penterasi Ko-In termasuk masif.

"Ko-In sudah berjalan, lebih dari 1.000 retail saat ini. Ada di Lamongan, Surabaya, dan akan buka di beberapa SPBU Pertamina. Targetnya, tahun 2021 sudah ada di seluruh Indonesia," jelas lelaki asal Negeri Jiran tersebut.

Secara keseluruhan, aplikasi Ko-In memberikan pemilik warung akses untuk mendapatkan barang dagangan dari pihak pertama, sehingga mereka bisa menjual barang dengan lebih murah, namun tetap menghasilkan margin keuntungan yang besar.

"Kita hanya membagi barang, bagi stok dan suplai dari pihak pertama. Harga jualnya terserah pemilik warung. Harapannya, konsumen bisa mendapatkan barang yang mereka inginkan dengan harga lebih murah. Sedangkan pemilik warung bisa mendapatkan suplai barang lebih murah, jadi untung dari margin jualnya lebih banyak," imbuhnya.

Aplikasi Ko-In. [Suara.com/Tivan Rahmat]
Aplikasi Ko-In. [Suara.com/Tivan Rahmat]

Cara kerja aplikasinya cukup sederhana, konsumen tinggal memilih barang yang mereka inginkan lewat aplikasi. Transaksi pembayaran bisa langsung di warung, atau dikirim jika total belanja lebih dari Rp 70 ribu.

Sedangkan untuk metode pembayaran, konsumen bisa membayarnya dengan berbagai cara.

"Bayarnya bisa cash, online, COD, atau pakai Doku Wallet untuk sementara waktu. Tapi kedepannya, nanti kita akan bikin dompet digital sendiri," tutup Sopiyan.

Sebagai informasi, aplikasi Ko-In sudah bisa diunduh di Google Play Store bagi pemilik gadget berplatform Android.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini