Jokowi 2 Periode Utang Bertambah Rp 10 T, Titiek Disebut Sesatkan Publik

"Tidak bisa dinilai angkanya saja, nanti justru malah bisa misleading atau menyesatkan publik,"

Suara.Com
Iwan Supriyatna | Muslimin Trisyuliono
Jokowi 2 Periode Utang Bertambah Rp 10 T, Titiek Disebut Sesatkan Publik
Titiek Soeharto saat menghadiri acara Deklarasi Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GNKR) di Rumah Perjuangan Rakyat, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Jumat (17/5/2019). [Suara.com/Novian Ardiansyah]

Suara.com - Politikus Partai Berkarya Titiek Soeharto mengatakan, jika Joko Widodo (Jokowi) kembali terpilih sebagai presiden, utang negara bisa bertambah Rp 10 triliun.

Hal tersebut diungkapkan mantan istri Prabowo Subianto itu saat menghadiri sidang putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Kamis (27/6/2019) lalu.

Menanggapi hal tersebut Direktur Eksekutif Economic Action Indonesia (Econact) Ronny P Sasmita mengatakan, komentar tersebut hanya tanggapan politis saja. Karena Titiek Soeharto tidak menjelaskan asal jumlah angka tersebut.

"Jadi saya kira, angka Ibu Titiek yang bilang Rp 10 triliun itu bukan angka ekonomi fiskal, tapi angka politis dari pihak yang bukan pemerintah," ujar Ronny saat dihubungi Suara.com, Senin (1/7/2019).

Ronny menuturkan jumlah angka tersebut tidak rasional secara ekonomi. Menurutnya jika angka tersebut benar adanya, perlu ada penjelasan proses hingga Rp 10 triliun tersebut.

Kemudian, masalah pertumbuhan utang harus disandingkan dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dan pertumbuhan penerimaan pajak.

"Jadi tidak bisa dinilai angkanya saja, nanti justru malah bisa misleading atau menyesatkan publik," tambahnya.

Sebelumnya, Titiek Soeharto menyebut, saat ini Indonesia memiliki utang sebesar Rp 5 triliun dan akan bertambah menjadi Rp 10 triliun jika Jokowi kembali menjabat.

"Sekarang Indonesia dari 5 tahun saja utangnya sudah Rp 5 triliun, kalau mau sepuluh tahun menjabat bisa Rp 10 triliun. Terus kalau gitu yang bayar nanti siapa," tandasnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini