Imbas Perang Dagang AS-China, Pelemahan Rupiah Diprediksi Berlanjut

Selain itu pelemahan rupiah terhadap dolar juga dipengaruhi keputusan The Fed soal suku bunga acuan

Suara.Com
Bangun Santoso | Achmad Fauzi
Imbas Perang Dagang AS-China, Pelemahan Rupiah Diprediksi Berlanjut
Suasana gerai penukaran uang di Jakarta, Kamis (1/3).

Suara.com - Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra memprediksi rupiah masih berpeluang melemah terhadap dolar AS. Dari pengamatannya, pelemahan rupiah dipicu perang dagang dan Bank Sentral AS atau The Fed yang tak mau terburu-buru menurunkan suku bunga acuan.

Dia menjelaskan, pasar masih mengkhawatirkan perkembangan negosiasi dagang AS-China yang berubah menjadi aksi saling serang. Meskipun China sudah meredam isu penggunaan yuan sebagai senjata untuk perang dagang, pasar masih belum melihat adanya arah jelas menuju kesepakatan dagang.

Sementara itu, sambungnya, kepala Bank Sentral AS cabang St Louis, James Bullard, tengah malam tadi memberi pernyataan bahwa dia mendukung ide pemangkasan suku bunga satu kali lagi tapi tidak akan terburu-buru untuk melakukannya.

"Rupiah kemungkinan masih bergerak di kisaran yang sama Rp 14.270-Rp 14.440," kata Ariston di Jakarta, Rabu (7/8/2019).

Berdasarkan data Bloomberg pergerakan rupiah pada Selasa (6/8/2019) pekan lalu berada di level Rp 14.276 per dolar AS. Level itu melemah dibandingkan Senin sebelumnya di level Rp 14.255 per dolar AS.

Sementara, Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, rupiah pada Selasa berada di level Rp 14.344 per dolar AS. Posisi itu melemah dibandingkan pada Senin sebelumnya yang di level Rp 14.231 per dolar AS.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini