Trump Sebut China Sebagai Pembunuh Perjanjian Perang Dagang

Namun, trump mengatakan bahwa reaksi pasar telah diantisipasi, tetapi ia tetap percaya diri pada kekuatan ekonomi AS

Suara.Com
Bangun Santoso | Achmad Fauzi
Trump Sebut China Sebagai Pembunuh Perjanjian Perang Dagang
Presiden AS, Donald Trump. [AFP/Saul Loeb]

Suara.com - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China terus memanas. Kedua negara pun melakukan aksi serangannya masing-masing. Dilansir Reuters, Presiden Donald Trump menyebut China sebagai pembunuh kesepakatan. Pasalnya, China akan berhenti membeli produk pertanian AS.

Selain itu, China juga menahan ekspor bahan kimia ke AS. Padahal, bahan kimia tersebut merupakan bahan membuat segala peralatan mulai i-Phone hingga peralatan militer.

Namun, trump mengatakan bahwa reaksi pasar telah diantisipasi, tetapi ia tetap percaya diri pada kekuatan ekonomi AS.

"Pada akhirnya, itu akan menjadi jauh lebih tinggi daripada yang pernah terjadi, karena China seperti jangkar pada kita. China membunuh kami dengan kesepakatan dagang yang tidak adil," ujar Trump.

Tensi Perang perdagangan AS-China meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir setelah AS pada Senin mencap Beijing sebagai manipulator mata uang untuk pertama kalinya sejak 1994, dan akan memberlakukan tarif 10 persen pada sisa 300 miliar dolar AS impor China, mulai 1 September.

Langkah-langkah itu membuat pasar keuangan goyah dan memicu kekhawatiran tentang resesi global.

Imbal hasil AS turun pada hari Rabu, dengan imbal hasil 30 tahun mendekati rekor terendah, di tengah meningkatnya kekhawatiran penurunan global dan taruhan Federal Reserve harus memangkas suku bunga lebih jauh untuk menghadapi risiko resesi yang semakin besar.

Para pejabat Gedung Putih masih mengharapkan para perunding China datang ke Washington pada bulan September untuk mengadakan pembicaraan, dan bahwa tarif terbaru masih dapat dihindari jika dua ekonomi terbesar dunia itu membuat kesepakatan dalam perjanjian perdagangan.

Akan tetapi harapan untuk kesepakatan meredup dan tekanan domestik tumbuh untuk Trump untuk memutuskan kesepakatan dengan Beijing.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini