Terkendala Akses Perbankan, UMKM Sulit Naik Kelas

Hingga saat ini jumlah wirausaha baru mencapai 3,1 persen.

Suara.Com
Chandra Iswinarno
Terkendala Akses Perbankan, UMKM Sulit Naik Kelas
Deputi Bidang Pembiayaan Kemenkop UKM Yuana Sutyowati di sela Temu Nasional Wirausaha Pemula di New Saphir Hotel Jogja, Kamis (8/8/2019). [Suara.com/Putu Ayu P]

Suara.com - Banyak Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang kesulitan mengakses bank untuk mengembangkan usahanya. Akibatnya, upaya untuk menaikkelaskan mereka jadi pengusaha profesional pun juga tidak mudah dilakukan.

Kendala tersebut, akhirnya jadi salah satu faktor jumlah entepreneur atau wirausaha di Indonesia sulit berkembang secara optimal. Hingga saat ini jumlah wirausaha baru mencapai 3,1 persen.

"Jumlah ini jauh dibawah Malaysia atau Singapura yang mencapai 17 persen dari jumlah penduduk,” papar Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) Yuana Sutyowati di sela Temu Nasional Wirausaha Pemula di New Saphir Hotel Jogja, Kamis (8/8/2019).

Karena itu, Kemenkop UKM mendorong pertumbuhan jumlah wirausaha pemula. Diantaranya melalui dukungan pada start up lokal melalui penguatan usaha setelah mereka menerima bantuan.

Selain itu Kementerian sejak Tahun 2011 hingga Tahun 2018 membagikan dana hibah kepada 20.382 wirausaha pemula (WP). Mereka diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing di kancah global.

Tahun ini, Kementerian juga mentargetkan ada 2.500 WP baru. Kementerian menganggarkan bantuan dana sebesar Rp 30 miliar. Masing-masing WP mendapat bantuan dana hibah antara Rp10 juta hingga Rp12 juta.

"Saat ini baru mencapai 60 persen dari target,” ungkapnya.

Sementara Asisten Sekda Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah DIY, Trisaktiyana mengungkapkan jumlah WP baru sekitar 60.000 orang. Namun dari jumlah tersebut baru 10 persen yang berhasil.

“Tingkat kegagalannya di DIY memang cukup tinggi,” ungkapnya.

Tri menyebutkan kegagalan tidak melulu disebabkan soal kekurangan modal. Sebab permodalan sudah diatasi dengan banyaknya dukungan dari Pemerintah untuk akses permodalan seperti hibah, pinjaman bergulir, KUR hingga kredit lunak.

“Justru kegagalan karena kemampuan mereka untuk membidik pasar dan membangun jaringan," imbuhnya.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini