Curhat Acha Septriasa soal Semrawutnya Pencoblosan di Sydney

Menurut Acha masih ada WNI di Australia yang belum memberikan hak pilihnya.

Suara.Com
Madinah
Curhat Acha Septriasa soal Semrawutnya Pencoblosan di Sydney
Aktris Acha Septriasa saat dijumpai di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan pada Kamis (25/1/2018). [Suara.com/Sumarni]

Suara.com - Artis Acha Septriasa keluhkan terkait pencoblosan capres dan cawapres oleh WNI yang berada di Australia. menurut dia, banyak sahabtnya yang berada di Negeri Kangguru urung memberikan hak suaranya dikarenakan waktu yang sangat terbatas.

Hal ini disampaikan Acha Septriasa melalui akun Instagramnya.

Antrean WNI di Sydney yang hendak mencoblos. [Instagram @septriasaacha]
Antrean WNI di Sydney yang hendak mencoblos. [Instagram @septriasaacha]

"Trudy Hasta Taftiana (teman Acha Septriasa) dan teman- teman yang ada di foto ini mungkin mereka sedang merasa sedih krn sebagai WNI yang berhak memilih dan sedang berada di luar Negeri. Sebagai visitors, pendatang sementara, students, Permanent Resident baru, atau pun temporary resident, mereka BELUM menggunakan HAK PILIH nya. Dikarenakan Pintu di tutup jam 18.00 tepat.

Menurut Informasi yang saya dapat, banyak dari mereka yang seharusnya sudah menjadi DPT tapi mungkin ketika di search di website KJRI resmi namanya jadi tidak bisa di temukan. Akhirnya mereka banyak yang pindah TPS.

Turut menyayangkan bahwa banyak sekali teman- teman kita yang menunggu 5 tahun untuk memilih , bahkan mereka ada juga yang sudah memutuskan pilihan untuk TIDAK GOLPUT tapi dibatasi dengan JAM pemilih Khusus yang hanya 1 jam sblm pencoblosan berakhir," beber Acha Septriasa panjang lebar.

Acha yang diketahui sedang berada di Australia pun harus pagi-pagi sekali berangkat ke TPS untuk mencoblos.

"Saya sendiri permanent resident di Sydney, Tp karena takut kehilangan hak pilih , saya datang jam 8 pagi ke Town Hall untuk mencoblos, masih blm terlalu crowded , ada 4 TPS panitia di sana juga dengan jelas mengInformasikan pada saya bahwa DPLNK ( khusus) yang telat mendaftar ulang (pendaftaran berakhir 8 maret -13 maret 2019 )seperti saya boleh memilih dan datang lebih awal dr jam 17.00 supaya menghindari antrian yang membludak. Saya pindah TPS akhirnya ke Marrickville. Di situ saya mencoblos di TPS 10, datang lebih awal jam 3.30 sore, traffic nya gak terlalu padat seperti di town hall dan KJRI , banyak pemilih Tetap yang entah mengapa terdaftar di panjang nya lists calon pemilih, tp NIHIL kedatangan nya di jam 3.30 sampe jam 5 sore.

Guys, apapun itu.. tetap berpegang teguh pada Indonesia, yakin kalau keadaan ini pasti ada hikmahnya, dan jangan memperkeruh suasana dengan upaya-upaya prasangka. Mungkin Informasi yang kita akses sedemikian rupa dariTim penyelenggara Pemilu Luar Negeri Sydney di website KJRI masih minim, namun Gak bisa di pungkiri Kejelasan sebagai peserta pemilih juga KURANG di Gaung kan ke seluruh masyarakat di Sydney dengan bebas di platform terbuka. Dan panitia seperti kewalahan menyambut pemilih yang datang dr segala penjuru NSW. Bagaimana @bawasluri @kpu_ri dan @kjrisydney menyikapi hal ini?," tulisnya lagi. 

Acha Septriasa juga unggah video antrean di Town Hall tempat pencoblosan dilakukan. Meski sudah mengantre dari sore, menurut Acha, ternyata masih banyak yang tidak bisa masuk ke lokasi.

"Suasana di Town Hall pada Malam hari (dari Trudy Taftiana ) saat TPS di tutup . Mereka ada juga yang sudah antri dari sore , dan tidak bisa masuk.  Di KJRI berita nya juga banyak tersiar di Twitter video tentang WNI di luar negeri yang marah karena tak bisa menggunakan hak pilihnya padahal sudah tinggal di Sydney," sambung Acha Septriasa.

Komentar

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini