Selasa, 21 Agustus 2018

Berikut Gejala Gangguan Bipolar dan Cara Mendeteksinya

Pekan depan, tepatnya tanggal 30 Maret selalu diperingati sebagai Hari Bipolar Sedunia.

Suara.Com
Rully Fauzi | Risna Halidi
Ilustrasi bipolar (shutterstock)
Ilustrasi bipolar (shutterstock)

Suara.com - Tanggal 30 Maret selalu diperingati sebagai Hari Bipolar Sedunia. Tanggal tersebut diambil dari hari kelahiran pelukis asal Belanda, Vincent Willem van Gogh yang juga dikenal sebagai salah satu tokoh penderita gangguan bipolar.

Menurut salah satu anggota Pokdi Bipolar DKI Jakarta, dr. Hervita Diatri, SpKJ(K), gangguan bipolar merupakan gangguan suasana perasaan sedih atau senang yang berlebihan, terjadi dalam waktu yang cukup lama, mengakibatkan gangguan fungsi dan penderitaan, baik untuk orang yang mengalami maupun orang yang ada di sekitarnya.

"Penyebab gangguan bipolar masih sulit ditetapkan karena bersifat multifaktoral, melibatkan faktor biologis, psikologis, sosial, kultural, dan spiritual," kata Hervita Diatri pada acara Seminar Kesehatan: World Bipolar Day 2018 di Jakarta baru-baru ini.

Faktor biologis, katanya, memegang peran besar dan dikaitkan dengan faktor genetik dan neuotrasmiter di otak.

Secara psikososial, gangguan bipolar juga dikaitkan dengan pola asuh pada masa kanak-kanak dan berbagai faktor stres dari lingkungan.

Empat Episode Gangguan Suasana Perasaan Penderita Bipolar

Gangguan suasana perasaan yang diderita pasien gangguan bipolar dapat dibagi ke dalam empat episode. Empat episode tersebut adalah Depresi, Mania, Hipomanik dan Campuran.

Episode depresi ditandai dengan suasana perasaan sedih atau murung dan disertai hilangnya minat, serta menetap selama kurang-lebih dua minggu.

Mania sendiri merupakan episode di mana penderita gangguan bipolar menunjukkan rasa gembira secara berlebihan dan menetap selama satu minggu.

Episode selanjutnya adalah episode hipomanik di mana suasana perasaan akan meningkat dan biasanya menetap selama empat hari.

Sementara episode campuran menjadi pemenuh kriteria episode manik atau hipomanik dan depresi, serta terjadi hampir setiap hari selama paling sedikit satu minggu.

Deteksi Dini Gangguan Bipolar

Dikutip dari rilis yang dibuat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia cabang Jakarta atau PDSKJI Jaya, terdapat beberapa langkah dalam mengenali gejala-gejala gangguan bipolar.

Pertama adalah melakukan skrining. Metode ini, pasien yang diduga menderita gangguan bipolar akan diberi edukasi mengenai apa itu gangguan bipolar.

Pasien kemudian diminta melakukan survei The Mood Disorder Questionnaire atau MDQ. Dokter juga akan melihat adanya riwayat tiga atau lebih pada seseorang seperti gagal nikah, gagal merespon anti depresan dan sangat menyukai warna menyolok.

Petunjuk ini, katanya dapat digunakan untuk mengetahui tingkat bipolaritas seseorang.

Selanjutnya, pasien gangguan bipolar juga akan diminta untuk melakukan wawancara klinis dan diagnosis dini. Wawancara dan pemeriksaan fisik dilakukan untuk memeriksa status mental pasien.

Sementara itu, diagnosis dilakukan untuk menentukan episode dan tipe bipolar yang diderita pasien. Pengobatan pada orang dengan gangguan bipolar akan tergantung dengan fase episode dan derajat keparahan pada fase tersebut.

Salah satu pengobatan terbaik pada penderita gangguan bipolar adalah mengontrol emosi dan suasana hati lewat obat yang mengandung sodium valproat.

Lebih dari itu semua, dukungan keluarga dan lingkungan adalah hal paling penting bagi seseorang yang menderita gangguan bipolar.

"Apabila gangguan keluarga saja dirasakan belum cukup terutama bila kondisi berlanjut dan berisiko untuk membahayakan diri atau sekitar, maka pertolongan tenaga ahli di bidang kesehatan jiwa termasuk perawatan inap di RS menjadi sangat diperlukan," tutup Hervita Diatri.

Terpopuler

Terkini