Rabu, 12 Desember 2018

Berapa Kali Kita Harus Medical Check Up dalam Setahun?

Banyak penyakit serius yang tak terdeteksi bila tidak dengan melakukan medical check up

Suara.Com
Ade Indra Kusuma | Vessy Dwirika Frizona
Ilustrasi. (Sumber: Shutterstock)
Ilustrasi. (Sumber: Shutterstock)

Suara.com - Selain menjaga gaya hidup sehat, medical check-up juga penting dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan dan deteksi penyakitsejak dini.

Berdasarkan hasil survei AIA Healthy Living Index 2018, angka orang Indonesia yang menjalanimedical check upmeningkat dari 2016 ke 2018, yakni dari 34 % ke 49 %.

Dari hasil tersebut juga terungkap alasan orang Indonesia yang tidak mau melakukan medicalcheck up. Sebanyak 52% merasa sehat, 49 % karena alasan biaya, 26 % takut dengan hasil medical check up mereka, 23 % lainnya membutuhkan banyak waktu, dan 10 % menyatakan yakin tidak memiliki risiko penyakit serius.

Dokter dr.Raissa E. Djuanda M.Gizi, Sp.GK, mengatakan, peting melakukan medical check up secara rutin. Sebab,  beberapa penyakit kritis terkadang tidak memiliki gejala khusus, namun dapat menyebabkan kematian. Ia pun memaparkan tentang periode waktu yang tepat melakukan medical check up.

“Medical check up sebaiknya dilakukan ketika sudah memasuki usia 18 tahun ke atas, setidaknya satu kali dalam satu tahun, apalagi untuk usia lanjut 40 tahun ke atas, dan penderita penyakit tertent, itu disarankan lebih dari satu kali. Tergantung kondisi dan penyakit yang diderita ya,” jelas dokter Raissa saat ditemuiSuara.comdi kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (6/12/2018).

Lebih lanjut ia memaparkan tentang penyakit serius yang tak terdeteksi bila tidak dengan melakukan medical check up. Salah satunya adalah penyakit jantung yang juga dikenal dengan silent killer karena tidak menunjukkan gejala awal. Bahkan gejala awal penyakit kanker pun sering diabaikan karena memiliki gejala yang menyerupai penyakit umum.

“Penyakit kritis dapat berdampak serius jika tidak ditangani sejak dini, tidak hanya terhadap kesehatan tapi juga berdampak pada keuangan. Tingginya biaya untuk pengobatan penyakit kritis menjadi kekhawatiran terbesar masyarakat Indonesia (87%) dan penyakit kanker diperkirakan dapat menyebabkan implikasi keuangan serius (53 %),” tukasnya.

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini