Rabu, 12 Desember 2018

Banyak Pasien Kanker Menolak Biopsi, Benarkah Malah Memicu Sel Kanker?

Masih banyak pasien kanker yang menganggap biopsi justru memicu pertumbuhan sel kanker.

Suara.Com
Vania Rossa | Firsta Nodia
Ilustrasi tindakan biopsi. (Shutterstock)
Ilustrasi tindakan biopsi. (Shutterstock)

Suara.com - Biopsi atau pengambilan jaringan tubuh untuk pemeriksaan laboratorium, kerap dilakukan dokter pada pasien kanker untuk memastikan tingkat keganasan sel kanker. Namun, tak dipungkiri banyak pasien menolak tindakan ini lantaran menganggap biopsi justru bisa memicu pertumbuhan sel kanker. Benarkah anggapan tersebut?

Hal ini dibantah oleh Konsulen Hematologi dan Onkologi di Siloam Hospitals Kebon Jeruk, dr. Jeffrey Tenggara, Sp.PD-KHOM. Ia mengatakan bahwa bukan biopsi yang memicu pertumbuhan sel kanker, namun keterlambatan pasien dalam mendeteksi dini adanya perubahan di tubuhnya.

"Untuk menentukan tumor itu jinak atau ganas harus lewat biopsi. Tapi memang ada pasien saya yang habis dibiopsi ambruk, meninggal dalam waktu tiga hari. Ternyata saya ingat, kalau dia harusnya sudah dibiopsi setahun lalu, tapi dibiarkan dan datang lagi setelah satu tahun ketika kankernya memang sudah menyebar," ujar dia.

Menurut dr. Jeffrey, mitos-mitos seperti ini justru membuat pasien terlambat mendapatkan penanganan sesegera mungkin. Padahal, sel kanker umumnya berkembang biak dengan sangat cepat dan tidak boleh ditunda penanganannya. Menghindari tindakan biopsi maka sama saja pasien menunda dilakukan perawatan sesegera mungkin.

"Membawa kanker ganas dalam satu tahun itu sudah tumbuh kankernya. Kalau di dalam tubuh, kanker itu seperti rayap di dalam rumah. Jumlahnya tidak kelipatan satu, tapi 1,8,16,32. Jadi semakin lama semakin banyak itu kanker. Kalau tidak dibiopsi, kita tidak bisa melakukan penanganan karena tidak boleh melakukan treatment apapun kalau tidak dibiopsi," tambah dia.

Oleh karena itu, dr. Jeffrey mengingatkan masyarakat untuk rutin melakukan deteksi dini. Selain itu pastikan untuk tidak mudah terayu oleh anggapan-anggapan seputar pengobatan kanker yang tidak didasari bukti ilmiah.

"Deteksi dini itu penting. Lalu penanganan kanker itu multidisiplin, bisa operasi, bisa kemoterapi, bisa radiasi, atau penggabungan dari beberapa tindakan," tandas dia.

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini