Kamis, 24 Januari 2019

Psikolog Ungkap 3 Faktor Seseorang Lakukan Prostitusi Online

Apa hubungan antara penggunaan media sosial hingga berkembang menjadi prostitusi online?

Suara.Com
M. Reza Sulaiman
Psikolog Ungkap 3 Faktor Seseorang Lakukan Prostitusi Online
Psikolog ungkap faktor penyebab seseorang lakukan prostitusi online. (Shutterstock/ilustrasi)

Suara.com - Kasus dugaan prostitusi online yang melibatkan dua selebritis perempuan menghebohkan media sosial . Psikolog pun menjelaskan hubungan antara penggunaan media sosial hingga berkembang menjadi prostitusi online .

Psikolog Bertha Sekunda mengatakan siapa pun yang terlibat prostitusi online merupakan korban media sosial. Dengan teknologi dan adanya media sosial, prostitusi yang dulunya hanya ada di lokalisasi kini menjamah ranah online.

Bertha mengatakan, sudah banyak penelitian yang dilakukan terhadap prostitusi online. Dirinya merumuskan tiga hal yang mempengaruhi seseorang nekat memasuki dunia prostitusi, yakni kontrol diri, norma, dan gaya hidup.

"Kalau karakter seseorang itu, misalnya dia bisa mengontrol diri, kalau ada sesuatu yang dijual, dia enggak akan beli jika tidak penting, walaupun mungkin sebenarnya dia mampu. Seperti itu, jika seorang artis bisa mengontrol diri, meskipun dia narsis dan cantik, dia bisa menghindari prostitusi online ini," kata Bertha, dikutip dari HiMedik.

"Yang kedua, norma, sebenarnya sama ya seperti kontrol diri, tapi ini saya pisahkan. Norma ini penting dalam kehidupan sosial," tambahnya lagi.

Faktor ketiga adalah gaya hidup. Bertha mengatakan seseorang dengan kebutuhan finansial yang besar untuk menunjang gaya hidup mewah misalnya, bisa saja tertarik untuk melakukan prostitusi online.

Ilustrasi belanja di mal [shutterstock]
Gaya hidup juga bisa jadi faktor seseorang lakukan prostitusi online. (Shutterstock)

"Lalu gaya hidup, hubungannya dengan kebutuhan finansial yang tiada henti. Kalau sudah merasakan mendapat banyak uang dengan mudah, dia akan ketagihan. Mereka ini korban kapitalisme global dan social media," imbuh Bertha.

Terkait hal ini, Bertha mengimbau para orang tua mengawasi anak-anaknya lantaran saat ini makin banyak anak di bawah umur yang sudah aktif di media sosial. Dirinya juga mendorong para pengguna media sosial untuk mempertajam iman dan kontrol diri.

"Jadi supaya mereka bisa membedakan apa yang perlu dan tidak, yang boleh dan tidak. Berlakulah sama di media sosial dan bersosialisasi di kehidupan nyata. Kalau harus pakai pakaian rapi dan sopan di media sosial, begitu juga ketika bersosialisasi," ungkap Bertha.

"Kan kekurangan media sosial ini tidak ada touch secara langsung ya, jadi tidak terasa human connection-nya. Kalau di kenyataan kan kita bisa lihat langsung reaksi mata orang yang melihat cara berpakaian kita, gitu contohnya," tutup Bertha.

HiMedik/Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini