Kamis, 24 Januari 2019

2019, Kemenkes Fokus Atasi Pencegahan Stunting dan Kasus Kematian Ibu

Peningkatan kesehatan ibu dan anak merupakan program yang menjadi prioritas

Suara.Com
Ade Indra Kusuma | Firsta Nodia
2019, Kemenkes Fokus Atasi Pencegahan Stunting dan Kasus Kematian Ibu
Temu Media di Kemenkes [Suara.com/Firsta]

Suara.com - Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengungkap beberapa fokus kerja Kemenkes sepanjang 2019 . Kasus stunting dan kematian ibu saat melahirkan yang masih cukup tinggi di Indonesia merupakan salah satu hal yang akan lebih giat ditangani Kemenkes tahun ini.

"Peningkatan kesehatan ibu dan anak merupakan program yang akan tetap kita tegakkan. Anak yang lahir diharapkan cerdas dapat mencapai sekolah yang berkualitas," ujar Menkes Nila dalam temu media di Kementerian Kesehatan, Kamis (10/1/2018).

Lebih lanjut Menkes Nila menambahkan bahwa data menunjukkan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan mengalami penurunan pada 2018 lalu yakni sebesar 73.5 persen dari 83.67 persen. Angka ini bahkan lebih rendah dari pencapaian pada 2015 lalu yakni sebesar 78.43 persen.

"Itu sebabnya nikah dini sangat tidak kita dukung. Coba bayangkan ketika anak-anak nikah dini fisik mereka belum sempurna sehingga ketika dia hamil angka kematian ibu tinggi karena fisiknya belum sempurna. Panggul belum berkembang sempurna sehingga kalau tidak cepat tertolong akan mati," imbuh Menkes Nila.

Sementara untuk stunting, Menkes Nila mengatakan meski Riskesdas 2018 menunjukkan penurunan angka stunting dari 37.2 persen ke 30.8 persen, Ia berujar bahwa jumlah tersebut masih cukup tinggi. Untuk itu kedepan Ia berharap edukasi seputar pentingnya 1000 hari kehidupan untuk mencegah stunting lebih digalakkan.

"1000 hari pertama kehidupan sangat penting dari kehamilan sampai bayi dua tahun merupakan titik krusial untuk mencegah balita stunting. Stunting juga masih terkorelasi dengan penyakit tidak menular, jadi kita harus mencegahnya," tambah dia.

Selain itu, Menkes Nila juga mengatakan bahwa program Keluarga Berencana juga harus menjasi fokus Kementerian Kesehatan di 2019. Menurutnya BKKBN juga harus mempertimbangkan berapa jumlah populasi yang dibutuhkan Indonesia agar tercipta generasi yang berkualitas.

"Selain memikirkan KB juga harus memikirkan jumlah populasi agar piramida penduduk betul baik dalam arti usia produktif saat mencapai bonus demografi benar-benar bisa bersaing di dunia kerja," tambah dia.

Kemenkes akui akan terus berusaha untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia. Di sistem JKN seperti sekarang ini, terhitung sudah 23.039 Fasikitas Kesehatan Tingkat Pertama berdiri, dan 2645 fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan. Sementara untuk anggota JKN sendiri sudah terhitung 207.8 juta jiwa masyarakat yang menjadi peserta.

Sistem asuransi kesehatan ini juga sudah dimanfaatkan sebanyak 212.7 juta kali pada 2018 meningkat tajam dibandingkan 92.3 juta kunjungan di 2014.

"Pembangunan puskesmas perbatasan dan daerah tertinggal juga terus kita galakkan. Sepanjang 2018 sudah 256 pembangunan puskesmas di daerah tertinggal perbatasan di 49 kabupaten. Kita rencanakan di 2019 sebanyak 279 puskesmas dibangun di daerah tertinggal dan perbatasan demi memperluas akses kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia," beber Menkes Nila F Moeloek. 

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini