Indonesia Alami Masalah Gizi Ganda, Kenapa Stunting Jadi Prioritas?

Bagaimana penanganan masalah gizi ganda yakni stunting dan obesitas di Indonesia?

Suara.Com
Silfa Humairah Utami | Firsta Nodia
Indonesia Alami Masalah Gizi Ganda, Kenapa Stunting Jadi Prioritas?
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro dalam Peringatan Hari Gizi Nasional ke 59 di Kementerian Kesehatan, Jumat (25/1/2019). (Suara.com/Firsta Putri Nodia)

Suara.com - Indonesia Alami Masalah Gizi Ganda, Kenapa Stunting Jadi Prioritas?

Indonesia mengalami beban gizi ganda yakni stunting dan obesitas. Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa prevalensi bayi stunting di Indonesia mencapai 30.8 persen, sementara kasus obesitas 21.8 persen.

Meski keduanya merupakan masalah, penanganan stunting menjadi prioritas bahkan tak hanya di Kementerian Kesehatan namun juga kementerian lembaga lainnya.

Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, stunting lebih menjadi prioritas untuk ditekan karena berpotensi menciptakan kemiskinan di masa mendatang. Padahal, kata dia, Indonesia sedang berusaha mengentaskan masalah kemiskinan.

"Sedangkan obesitas dampaknya pada kematian akibat penyakit tidak menular. Sehinga target strategis stunting lebih ke pembangunan kalau obesitas lebih ke kesehatan. Pendekatannya berbeda. Yang lebih urgent karena kita bisa lihat daerah yang stuntingnya tinggi, kemiskinannya tinggi," ujar Bambang dalam Peringatan Hari Gizi Nasional ke 59 di Kementerian Kesehatan, Jumat (25/1/2019).

Bambang menjelaskan, penanganan stunting tidak hanya spesifik di sisi kesehatan tapi lintas sektor. Kementerian Kesehatan, kata Bambang memang bertanggung jawab dari sisi gizi, tapi bukan berarti kementerian lain seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, hingga Kementerian Desa tidak berperan.

"Ketika bicara tentang pengatentasan gizi itu juga termasuk pangan. Kementan didorong untuk meproduksi makanan yang lebih segar terutama sayur dan buah, termasuk protein hewani dan karbohidrat. Lalu Kemenperin didorong melakukan fortifikask sehingga gizi makanan bisa lebih optimal. Dari Kemendes bisa mengalokasikan dana desa untuk posyandu," imbuh dia.

Kini pihaknya dan jajaran kementerian lembaga lainnya fokus untuk menangani stunting di daerah yang prevalensinya cukup tinggi, seperti Nusa Temggara Timur.

Menurut dia, meski prevalensi stunting menurut Riskesdas 2018 mengalami penurunan, angka 30 persen masih terbilang tinggi jika dibandingkan dengan populasi Indonesia.

"Tentunya kita punya keinginan agar masalah gizi ganda stunting dan obesitas menurun, Angka 30 persen masih sangat besar yang bahayanya akan menciptakan kemiskinan di masa depan," tandas Bambang.

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini