Minggu, 17 Februari 2019

Merasa Tak Minta Dilahirkan, Lelaki India Ini Seret Ibunya ke Pengadilan

Ia menganggap dirinya sendiri sebagai korban kehidupan "yang dipaksakan".

Suara.Com
Ade Indra Kusuma | Risna Halidi
Merasa Tak Minta Dilahirkan, Lelaki India Ini Seret Ibunya ke Pengadilan
Ilustrasi janin dalam kandungan, ibu hamil. (Shutterstock)

Suara.com - Merasa Tak Minta Dilahirkan , Lelaki India Ini Seret Ibunya ke Pengadilan .

Seorang lelaki India bernama Raphael Samuel, menyeret orangtuanya sendiri ke pengadilan karena telah melahirkannya ke dunia tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan darinya.

Lelaki berusia 27 tahun tersebut dikenal sebagai seorang anti-natalis, atau percaya bahwa melahirkan makhluk hidup tanpa meminta persetujuan mereka adalah sebuah kesalahan secara moral. 

Karena hal itu juga, Samuel menganggap dirinya sendiri sebagai korban kehidupan "yang dipaksakan".

"Saya ingin memberi tahu semua anak-anak India bahwa mereka tidak berutang apa pun kepada orangtua mereka. Saya mencintai orangtua saya, dan kami memiliki hubungan yang hebat, tetapi mereka memiliki saya karena untuk kegembiraan dan kesenangan mereka saja. Hidup saya luar biasa, tetapi saya tidak melihat mengapa saya harus menjalani kehidupan ini, melalui beragam pergolakan sekolah dan menemukan karier," kata Samuel kepada The Paper  seperti dikutip Odditycentral.

Samuel sendiri mengaku tidak menentang anak-anak atau kehidupan, dia hanya percaya bahwa semua bentuk kehidupan yang muncul tanpa persetujuan, tidak boleh dibawa ke dunia lalu terjebak pada masalah hidup. 

Samuel kini memgelola akun Facebook anti-natalisme di mana ia secara rutin memposting pesan anti-prokreasi bernama Nihilanand.

Akun tersebut hanya memiliki 431 pengikut, tetapi Raphael tampaknya tidak peduli.

"Orang India lainnya harus tahu bahwa "ada" pilihan untuk tidak memiliki anak, dan meminta penjelasan kepada orangtua mengapa mereka melahirkanmu," lanjut Samuel.

Meskipun jumlahnya masih sedikit, gerakan anti-natalis di India tumbuh dengan cepat dan berencana untuk mendirikan organisasi tingkat nasional.

Katanya, mereka akan berupaya menyebarkan kesadaran tentang kehidupan bebas anak. "Ini adalah gerakan yang sepenuhnya sukarela, tanpa kekerasan. Kami tidak ingin memaksakan kepercayaan kami kepada siapa pun, tetapi lebih banyak orang perlu mempertimbangkan mengapa memiliki anak di dunia saat ini tidak benar," kata Pratima Naik, lulusan teknik berusia 28 tahun dan salah satu pemimpin gerakan anti-natalis.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini