Kata Pakar, Kram Saat Lari Tidak Disarankan Dikompres Pakai Air Es

Penanganan cedera kram tidak boleh dikompres dengan air es. Kenapa?

Suara.Com
M. Reza Sulaiman | Firsta Nodia
Kata Pakar, Kram Saat Lari Tidak Disarankan Dikompres Pakai Air Es
Kram saat lari tidak boleh dikompres air es. Kenapa? (shutterstock)

Suara.com - Kata Pakar , Kram Saat Lari Tidak Disarankan Dikompres Pakai Air Es

Mengalami cedera kerap dialami para pelari ketika latihan maupun berkompetisi. Banyak anggapan bahwa cedera seperti kram bisa segera diatasi dengan kompres es batu.

Namun menurut Matias Ibo selaku Sport Physiotherapy of Sport Science, justru penanganan cedera kram tidak boleh dikompres dengan air es .

"Itu sebenernya penanganan yang kurang benar karena akan semakin mengeras dan nantinya semakin kram. Sebaiknya lakukan dinamic stretching," ujar dia di sela-sela temu media, Rabu (6/2/2019).

Ia menambahkan, saat cedera sebaiknya pelari tidak menghentikan aktivitasnya secara total. Misalkan pelari mengalami cedera lutut maka usahakan tetap berjalan dan hindari berdiri statis.

"Karena kalau berdiri statis akan memengaruhi pernapasan, kondisinya tubuh menjadi dingin. Jadi harus berjalan kecuali kondisinya tidak memungkinkan sama sekali tidak bisa berjalan seperti napas sudah hilang. Penanganannya ya latihan dengan baik," imbuh dia.

Aktivitas menggerakkan tubuh kata dia, penting dilakukan untuk mempersiapkan diri agar tetap stabil meski sedang cedera. Biasanya menurut Matius, cedera timbul ketika pelari kurang mempersiapkan diri dengan baik selama fase latihan.

"Kalau pola latihan salah, itu efeknya bisa ke lutut, ankle. Biasanya kalau jatuh di lutut dan tidak ada cedera langsung di dalam, itu biasanya masalahnya dari pinggul karena itu menunjukkan kelemahan. Jadi latihan cukup penting untuk menghindari risiko cedera saat lomba," tambah dia.

Durasi persiapan lari yang ideal kata dia adalah empat bulan sebelum hari H. Latihan selama durasi tersebut diperlukan untuk meningkatkan stamina dan kualitas lari seseorang.

"Latihan untuk marathon baiknya empat kali seminggu. Tapi jaraknya tidak boleh sama agar tubuh tidak jenuh karena tubuh akan masuk dan terbiasa dengan pola segitu, begitu diubah akan jadi cedera. Jika total jarak sudah dapat 50 km per minggu itu sudah oke untuk mengikuti marathon," tandas dia.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini