Psikolog : Jangan Punya Anak Kalau Belum Siap

Apa tanda kesiapan sebagai orangtua?

Suara.Com
Vania Rossa | Firsta Nodia
Ilustrasi. (Sumber: Shutterstock)
Ilustrasi. (Sumber: Shutterstock)

Suara.com - Memiliki anak tampaknya menjadi sebuah kewajiban bagi pasangan yang sudah menikah. Tuntutan dari orangtua dan tekanan dari teman-teman sebaya menjadi alasannya. Padahal, belum tentu pasangan yang sudah menikah sudah siap untuk memiliki anak.

Disampaikan psikolog Monica Sulistiawati, menjadi orangtua adalah proses belajar yang tidak pernah berakhir. Itu sebabnya, pasangan yang sudah menikah harus benar-benar mempersiapkan diri untuk menjadi orangtua. Alasannya sederhana, ketika orangtua saja tidak siap memiliki anak, maka ia tak bisa maksimal dalam merawat buah hati.

"Ketidaksiapan ibu memengaruhi emosi anak. Jadi orangtua perlu persiapan yang matang. Kalau tidak siap, tidak usah punya anak. Karena kalau tidak, akan berbahaya untuk psikologis anak," ujar Monica dalam temu media yang dihelat Mothercare, Selasa (12/2/2018).

Lalu, adakah indikator kesiapan menjadi orangtua? Monica mengatakan pasangan suami istri siap memilili anak jika memang telah benar-benar menginginkan anak. Sehingga memiliki anak adalah bagian dari rencana pasangan, bukan karena tekanan dari lingkungan atau faktor kegagalan KB.

"Kalau dua-duanya menginginkan, maka apapun yang terjadi dalam proses mengandung atau melahirkan dua-duanya siap kerjasama," imbuh dia.

Nah, untuk siap menjadi orangtua, maka seseorang harus belajar terus menerus. Wawasan mengenai ilmu parenting bisa didapat lewat buku atau diskusi dengan para orangtua lainnya. Relasi suami dan istri juga harus sehat sehingga bisa saling bekerjasama dalam merawat buah hati.

"Untuk bikin pernikahan dan parenting berjalan dengan baik, kalau ada yang tidak berkepentingan harus cepat-cepat close. Misal lagi curhat masalah anak terus ada mom shaming, block saja. Jadi tidak merusak perasaan kita," imbuhnya.

Selanjutnya tetap rileks. Meski menjadi orangtua tidak mudah, Monica mengimbau pasangan baru untuk menganggapnya sebagai tantangan. Sehingga memiliki motivasi untuk melaluinya dengan sebaik-baiknya.

"Terakhir, asuh anak sebaik-baiknya dan jangan berusaha jadi perfeksionis," tandas dia.

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini