Kisah Pilu Ibu di Australia yang Ingin Anaknya Disuntik Mati Jadi Viral

Sang ibu akui tidak ada harapan bagi anaknya untuk pulih.

Suara.Com
Ade Indra Kusuma | Risna Halidi
Kisah Pilu Ibu di Australia yang Ingin Anaknya Disuntik Mati Jadi Viral
Ilustrasi suntik mati [shutterstock]

Suara.com - Kisah Pilu Ibu di Australia yang Ingin Anaknya Disuntik Mati Jadi Viral.

Seorang ibu mengajukan permohonan yang memilukan kepada pemerintah Australia, ia meminta agar putranya dapat melakukan proses eutanasia di Austarlia dan tak perlu jauh-jauh pergi ke Swis.

Eutanasia sendiri merupakan tindakan sengaja untuk mengakhiri hidup dengan cara yang relatif cepat dan tanpa rasa sakit, untuk alasan kemanusiaan.

Mangutip Newscom.au, sang ibu yang bernama Barbra Thornton, mendesak para politisi Australia untuk melegalkan eutanasia di negaranya. Barbra ingin agar putranya Troy Thornton dapat mendapatkan eutanasia di Autralia, dekat dengan sanak keluarga.

Troy sendiri kini sudah meninggal dunia setelah mendapat suntikan mematikan di klinik euthanasia di Swis, beberapa waktu lalu.

Troy memiliki masalah pada sistem atrofi dan gangguan neurodegeneratif progresif yang membuatnya perlahan-lahan menjadi lumpuh.

Troy bahkan pernah mengatakan bahwa ia akan menjadi 'sayuran' karena penyakitnya.

"Pertama kamu tidak bisa berenang, lalu kamu tidak bisa berlari, berjalan, menendang kaki dengan anak-anakmu, kamu tidak bisa berselancar, mengemudi. Lalu kamu akhirnya menjadi sayuran," kata Troy saat masih hidup.

Sampai saat ini, tidak ada pengobatan yang tersedia untuk masalah yang diderita Troy dan tidak ada harapan bagi pasien seperti Troy untuk pulih.

Di Australia sendiri, negara bagian Victoria menjadi lokasi pertama yang melegalkan eutanasia, meski begitu, Troy dianggap tidak memenuhi syarat untuk menjalani proses tersebut.

Syarat utama untuk proses kematian sukarela di Victoria adalah bahwa penyakit pasien harus pada tahap terminal.

Sementara pada kasus Troy, keluarganya tidak dapat menemukan dua dokter yang bersedia mengatakan dengan pasti bahwa Troy akan meninggal dalam waktu 12 bulan ke depan.

Ini juga menjadi alasan mengapa Troy dan keluarga harus terbang ke Swiss, jauh dari teman-teman dan keluarganya, untuk mengakhiri penderitaan yang Troy derita.

"Pasti ada sesuatu yang bisa dilakukan tentang ini. Saya harap ini menjadi warisannya ... Saya akan bangga akan hal itu dan mudah-mudahan suatu hari nanti akan berlalu dan orang-orang tidak akan melakukan perjalanan jauh," kata ibunda Troy kepada media The Age.

Komentar

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini