Anak Terlambat Bicara saat Usia 1 Tahun, Waspadai Tuli Kongenital

Jika anak Anda mengalami keterlambatan bicara sesuai fase usianya, maka waspadai kondisi tuli kongenital.

Suara.Com
M. Reza Sulaiman | Firsta Nodia
Anak Terlambat Bicara saat Usia 1 Tahun, Waspadai Tuli Kongenital
Anak sulit bicara, bisa jadi tuli kongenital (Shutterstock)

Suara.com - Anak Terlambat Bicara saat Usia 1 Tahun, Waspadai Tuli Kongenital

Anak akan mengalami perkembangan sesuai fase usianya. Biasanya saat usia 12 bulan anak sudah mulai mengeluarkan kosakata sederhana meski tak begitu jelas. Ketika usia 18 bulan anak sudah mulai mampu menyebut satu kata yang memiliki arti dan di usia 24 bulan perbendaharaan kata anak semakin bertambah minimal 10 kata.

Namun jika anak Anda mengalami keterlambatan bicara sesuai fase usianya, maka waspadai kondisi tuli kongenital. Tuli kongenital merupakan gangguan pendengaran yang terjadi saat lahir, baik tuli sebagian ataupun total, dan bisa diakibatkan faktor-faktor saat kehamilan ataupun kelahiran.

Disampaikan dr Hably Warganegara, Sp. THT-KL, Dokter Spesialis THT, Bedah Kepala dan Leher RSPI Bintaro Jaya, kondisi tuli kongenital memang ditandai dengan keterlambatan bicara. Anak juga minim respon meski dikejutkan dengan suara yang kencang.

"Gejalanya anak belum bisa bicara sesuai usia. Memang data menunjukkan sekitar 25 persen anak yang delay speech (terlambat bicara) itu penyebabnya ada gangguan di THT. Selain itu bunyi pesawat atau ada bom dia nggak kaget," ujar dr Hably dalam temu media, di Jakarta, baru-baru ini.

Ia menambahkan bayi yang lahir seharusnya menjalani pemeriksaan OAE atau Otoacoustic Emissions untuk mendeteksi adanya gangguan pendengaran atau tidak. Penemuan kasus lebih awal dapat membantu bayi mendapatkan penanganan yang lebih baik sehingga tumbuh kembangnya tidak tertinggal.

"Kalau nggak bisa ngomong baru dibawa ke dokter, itu agak terlambat. Mestinya usia 6 bulan sudah diterapi. Dipakaikan alat bantu dengar biar nggak ketinggalan waktu belajar. Lebih cepat lebih bagus," imbuh dia.

Sayangnya tak semua rumah sakit menerapkan pemeriksaan ini saat bayi baru lahir sehingga gangguan pendengaran ini terlambat dideteksi.

Ilustrasi kesehatan pendengaran, telinga anak. (Shutterstock)
Anak sulit bicara, bisa jadi tuli kongenital (Shutterstock)

Orang tua, kata dr Hably juga bisa mencoba melakukan deteksi sendiri dengan mengeraskan suara ke anak, ketika anak kaget dan ingin memeluk ibu maka itu tandanya fungsi pendengaran anak normal.

"Faktor risikonya banyak. Bisa karena gangguan riwayat keluarga dari lahir, ada infeksi TORCHS saat ibu mengandung, bayi lahir prematur sehingga fungsi pendengaran belum optimal, bisa juga karena bayi dirawat di NICU selama lima hari atau lebih dan infeksi meningitis," terangnya mengenai faktor risiko anak terlambat bicara.

Penanganan bayi dengan gangguan pendengaran seperti tuli kongenital yang ditandai terlambat bicara, kata dr Hably, bisa dilakukan dengan pemasangan alat bantu dengar, implan koklea, terapi bicara hingga memasukkannya ke sekolah khusus.

Komentar

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini