Tragis, Depresi Bikin Ibu Tega Bunuh Anaknya yang Sakit Kanker

Depresi membuat seorang ibu membunuh putrinya yang sakit kanker, dengan dalih ingin menyelamatkan dari penderitaan. Tragis banget!

Suara.Com
M. Reza Sulaiman | Risna Halidi
Tragis, Depresi Bikin Ibu Tega Bunuh Anaknya yang Sakit Kanker
Depresi, seorang ibu tega bunuh anak yang sedang sakit kanker. (Shutterstock)

Suara.com - Tragis, Depresi Bikin Ibu Tega Bunuh Anaknya yang Sakit Kanker

Seorang dokter dari Belgia bernama Mehrnaz Didgar (51) dituntut hukuman lima tahun penjara setelah membunuh anaknya sendiri yang masih berusia 14 tahun, Eline, yang menderita kanker tiroid.

Mehrnaz sendiri adalah seorang ahli bedah saraf kenamaan di Eropa, namun ia dicurigai menderita gangguan jiwa depresi. Mehrnaz membunuh Eline dengan cara mencekik leher putrinya tersebut dengan plastik.

Hakim Peter Hartoch dari Pengadilan di Leuven, Belgia mengatakan bahwa putusan sidang terhadap Mehrnaz merupakan persidangan terberat dan paling sulit selama karirnya. Ia mengaku bersikap lunak karena Mehrnaz nihil catatan kriminal dan menunjukkan rasa bersalah yang sangat besar.

Baik Eline dan Mehrnaz memang diketahui mengalami depresi, akibat penyakit Eline. Eline mengalami kanker tiroid sejak usia 7 tahun, membuatnya membutuhkan perawatan ekstra dari sang ibu.

Itu juga yang membuat Mehrnaz pulang ke rumah membawa obat untuk diberikan kepada putrinya. Sesampainya di rumah, Mehrnaz mencekik leher putrinya yang tengah terlelap akibat pengaruh obat.

"Setelah itu dia mencekik dengan kantong plastik di mulut dan hidung selama lima belas menit," kata Hartoch, dilansir Mirror.

Setelah itu, Mehrnaz menelepon seorang teman dan memberi tahu apa yang telah ia lakukan. Ketika teman Mehrnaz menelepon polisi, ibu depresi itu memilih melarikan diri.

Satu jam kemudian, mobilnya terlihat berada di tepi jalan dengan kondisi ban kempes di kedua sisi.

Di hadapan polisi, Mehrnaz mengakui tindakannya. Tapi itu semua ia lakukan karena sang putri memang sudah sangat ingin mati.

"Dia berkata 'mengapa kita menunggu kematian? Saya ingin mati sekarang'. Saya kosong, tak bernyawa, saya mengonsumsi obat yang biasanya saya berikan untuk pasien. Saya percaya bahwa kami berdua seharusnya mati." kata Mehrnaz di pengadilan.

Ilustrasi perempuan stres atau depresi. (Shutterstock)
Ilustrasi perempuan stres atau depresi. (Shutterstock)

Eline diketahui menderita kanker tiroid sejak usia 7 tahun dan sang ibu mengklaim bahwa putrinya semakin menderita seiring menginjak masa remaja.

Hal tersebut bertentangan dengan pernyataan Steven Pans, ayah Eline. Menurut Steven, putrinya tak menunjukkan tanda-tanda depresi dan ingin mati.

Kini, Mehrnaz mengaku sangat merasa bersalah. Ia menyesal telah membunuh putrinya, meskipun dengan alasan ingin menyelamatkannya dari penderitaan.

"JIka saya bisa memutar balik waktu, ini tidak akan terjadi. Sejak awal saya sangat benci disebut sebagai pembunuh. Saya bisa merasakan sakit yang Steven rasakan." kata Mehrnaz.

Komentar

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini