KLB Muntaber di Gorontalo Utara, Ratusan Orang Muntah dan Diare

KLB muntaber menyerang Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo.

Suara.Com
M. Reza Sulaiman
KLB Muntaber di Gorontalo Utara, Ratusan Orang Muntah dan Diare
Gorontalo Utara KLB muntaber, ratusan orang dirawat karena muntah dan diare. (Shutterstock)

Suara.com - KLB Muntaber di Gorontalo Utara, Ratusan Orang Muntah dan Diare

KLB muntaber menyerang Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, raturasn puluhan orang dirawat karena diare dan muntaber.

Kasus diare dan muntaber massal tercatat terjadi di Kecamatan Biau dan Tolinggula, sejak hari Jumat (29/3) lalu. Data terkini menyebut total ada 111 orang yang mengalami muntaber.

Kepala Puskesmas Tolinggula, Dahri Zakaria, mengatakan, data saat ini menunjukkan ada 35 orang pasien muntaber, dengan 4 di antaranya dirujuk ke rumah sakit dan 2 dua orang meninggal dunia.

"Setelah korban usia balita meninggal di rumah sakit rujukan pada Selasa (2/4) pagi, korban meninggal bertambah pada Selasa malam, yaitu balita usia 2 tahun yang dirujuk pada Sabtu (30/3)," dilansir Antara.

Ia menambahkan balita tersebut berasal dari Desa Ilomangga Kecamatan Tolinggula, yang dirujuk akibat mengalami diare disertai muntah, panas tinggi serta kejang-kejang.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Biau, Warda Mootalu, SKM mengatakan, jumlah penderita muntaber di wilayah itu juga bertambah hingga pagi ini, mencapai 76 orang.

"Pelayanan puskesmas tidak diliburkan sebab warga dengan kasus diare disertai muntah masih berdatangan, meski yang dirawat inap seluruhnya sudah dipulangkan," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Gorontalo Utara, dr Wardana Harun, Sp.PK mengatakan KLB muntaber ditetapkan setelah banyaknya balita yang dirawat karena mengalami keluhan muntah dan diare.

"Penetapan status KLB sebab jumlah penderita terus bertambah, apalagi hari ini masih ada dua pasien baru anak-anak usia 3 tahun dan 2 tahun 9 bulan di Kecamatan Biau, harus dirujuk ke rumah sakit," ujarnya.

Anak muntah. (Shutterstock)
Gorontalo Utara KLB muntaber, ratusan orang muntah dan diare. (Shutterstock)

Ia mengatakan, kasus muntaber tersebut menjadi perhatian khusus apalagi penderitanya didominasi anak-anak dibawah usia 5 tahun.

Penyebab pasti terjadinya KLB muntaber ini pun belum diketahui. Sebabnya, sampel air tanah yang digunakan oleh masyarakat di dua kecamatan tersebut masih diuji di laboratorium mikrobiologi di Surabaya.

Diharapkan, hasil pengujian mikroba bisa menemukan virus ataupun bakteri yang menjadi penyebab KLB muntaber. Termasuk apakah sampel yang diuji itu mengandung bahan kimia berbahaya yang mempengaruhi daya tahan tubuh serta otak manusia.

"Mengingat baru kali ini di daerah ini temukan kasus diare disertai kejang berulang-ulang dan panas tinggi hingga menyebabkan kematian," tutupnya. [ANTARA]

Komentar

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini