Diet Ekstrem Hanya Minum Jus dan Air, Perempuan Alami Kerusakan Otak

Diet minum jus dan air selama tiga minggu, perempuan harus dilarikan ke rumah sakit.

Suara.Com
M. Reza Sulaiman | Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Diet Ekstrem Hanya Minum Jus dan Air, Perempuan Alami Kerusakan Otak
Ilustrasi: Diet ekstrem hanya minum jus dan air sangat membahayakan kesehatan. [Shutterstock]

Suara.com - Diet ekstrem Hanya Minum Jus dan Air, Perempuan Alami Kerusakan Otak

Diet untuk menurunkan berat badan berlebih boleh-boleh saja. Meski begitu, diet yang dilakukan tetap harus memenuhi kebutuhan gizi dan nutrisi.

Seorang perempuan asal Israel mengalami kerusakan otak setelah menjalani diet ekstrem, yakni hanya minum air dan jus selama tiga minggu. Akibatnya ia harus dirawat di rumah sakit karena mengalami kerusakan otak dan malnutrisi.

Dikutip Himedik dari Mako, diet jus tersebut direkomendasikan oleh seorang terapis perempuan di Tel Aviv, yang terdiri dari jus buah dan berliter-liter air. Setelah tiga minggu menjalani diet, perempuan itu akhirnya dirawat di rumah sakit dalam kondisi serius di Sheba Medical Center di Tel Hashomer.

Ia dilaporkan menderita hiponatremia, kondisi yang ditandai dengan ketidakseimbangan kadar garam yang parah dan tingkat elektrolit yang terganggu.

Kondisi ini biasanya dikaitkan dengan minum terlalu banyak air, tetapi inti masalahnya terletak pada kadar natrium dalam tubuh yang menjadi terlalu encer.

Air pun meninggalkan darah dan memasuki sel-sel melalui proses osmosis, yang kemudian membengkak. Akibatnya terjadi serangkaian gejala, termasuk kelelahan, kebingungan, mual, sakit kepala, dan bahkan kejang.

"Hiponatremia terjadi ketika kadar natrium Anda turun, dan itu bisa mematikan. Jika (pasien, -red) hanya minum jus jeruk dan air, itu tidak mengherankan." kata Keri Gans, ahli gizi diet, kepada Health.

Seorang perempuan melepas dahaga dengan minum air putih. [shutterstock]
Hipotanemia terjadi ketika seseorang kebanyakan minum air, termasuk diet ekstrem hanya minum jus. [shutterstock]

Dikutip HiMedik.com dari IFL Science, tidak banyak penelitian ilmiah tentang manfaat nutrisi dari diet jus yang ketat.

Sebagian besar ilmuwan tidak yakin dengan berbagai klaim untuk jus. Disebutkan, diet jus tidak memberikan banyak nutrisi penting, seperti protein, zat besi, lemak esensial, serta serat makanan, dan kemungkinan memberikan kadar gula alami yang tinggi.

Meski begitu, jus telah menjadi tren yang makin populer dalam beberapa tahun terakhir untuk memperbaiki berat badan dan rutinitas kesehatan. Diet jus juga diklaim bisa membantu detoksifikasi tubuh, yang tetap sama sekali tidak berdasar pada penelitian ilmiah.

"Orang-orang mendapatkan infonya dari ahli terapi pijat atau petugas di toko makanan kesehatan yang mungkin tidak mengetahui risiko potensial," ujar Dr Ronald Stram, direktur medis dan pendiri Center for Integrative Health and Healing di Delmar, kepada The New York Times pada 2009.

Komentar

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini