Studi: Jangan Melewatkan Sarapan Jika Tak Ingin Kena Penyakit Jantung

Tak cuma bikin lemas, sering melewatkan sarapan bisa tingkatkan risiko penyakit.

Suara.Com
M. Reza Sulaiman | Firsta Nodia
Studi: Jangan Melewatkan Sarapan Jika Tak Ingin Kena Penyakit Jantung
Melewatkan sarapan rentan penyakit jantung. (Shutterstock).

Suara.com - Studi: Jangan Melewatkan Sarapan Jika Tak Ingin Kena Penyakit Jantung

Sarapan merupakan waktu makan yang sering dilewatkan sebagian orang karena alasan tidak punya waktu alias terburu-buru. Padahal sarapan sangat penting untuk memulai hari.

Selain menjadi lemas dan tak berdaya, orang yang jarang sarapan dan makan malam terlalu larut juga berisiko mengalami kesehatan yang lebih buruk, termasuk mengidap penyakit jantung.

Temuan ini didapat dari sebuah studi terkini yang dipublikasikan dalam jurnal European Journal of Preventive Cardiology.

Peneliti mengatakan, orang yang melakukan kedua kebiasaan makan ini umumnya berisiko empat hingga lima kali lebih besar untuk meninggal, mengalami serangan jantung atau menderita nyeri dada dalam waktu 30 hari setelah meninggalkan rumah sakit.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa dua perilaku makan yang buruk terbukti membuat kondisi lebih buruk setelah serangan jantung," ujar penulis studi Dr. Marcos Minicucci, dari São Paulo State University di Brazil, dilansir NY Post.

Marcos juga mengatakan bahwa orang-orang yang bekerja lembur mungkin sangat rentan mengalami makan malam yang terlambat dan kemudian tidak sarapan di pagi hari.

Namun, sulit untuk mendapatkan angka pasti pada jam berapa orang Amerika makan malam. Sebuah laporan di 2003 lalu menyebutkan waktu makan malam masyarakat Amerika umumnya berlangsung antara pukul 6 hingga 7 malam, meskipun ada pula orang yang melaporkan makan malam hingga pukul 11 malam atau lebih.

Di sisi lain, The American Heart Association melakukan penelitian tentang konsumsi makanan berkalori tinggi setelah pukul 6 sore. Lebih dari separuh responden melaporkan bahwa mereka makan banyak di malam hari karena melewatkan sarapan.

Pola makan seperti ini menurut peneliti meningkatkan risiko 23 persen lebih tinggi terkena tekanan darah tinggi dan risiko 19 persen menjadi prediabetes dibandingkan dengan mereka yang makan sebelum jam 6 sore.

Menyiapkan bekal anak [shutterstock]
Sarapan penting untuk mengawali hari. [shutterstock]

Makan terlalu malam juga dikaitkan dengan kelebihan berat badan dan obesitas yang pada gilirannya meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Sebuah laporan University of Pennsylvania juga menemukan bahwa responden yang makan larut malam untuk menghindari sarapan justru mengalami peningkatan berat badan, bahkan kadar insulin, gula darah, kolesterol dan trigliserida, yang dapat membahayakan jantung.

Temuan ini didukung penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology yang menemukan bahwa melewatkan sarapan memicu pengerasan pembuluh darah. Dan sebuah penelitian di Harvard menemukan bahwa lelaki berusia 45 hingga 82 yang melewatkan sarapan memiliki risiko 27 persen lebih tinggi mengalami serangan jantung atau kematian akibat penyakit jantung daripada mereka yang rutin sarapan.

Minicucci merekomendasikan agar masyarakat memberikan jarak dua jam makan malam sebelum tidur dan mendorong orang untuk memulai hari dengan sarapan sehat yang mencakup produk susu, karbohidrat dan buah-buahan utuh.

"Ada anggapan bahwa cara terbaik untuk hidup adalah sarapan seperti raja. Seharusnya sarapan memuat 15 hingga 35 persen dari total asupan kalori harian kita," tandasnya.

Komentar

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini