Ini Takaran Ideal agar Konsumsi Kopi Tak Picu Peningkatan Tekanan Darah

Konsumsi kopi merupakan salah satu faktor risiko dari hipertensi atau tekanan darah tinggi.

Suara.Com
Vania Rossa | Firsta Nodia
Ini Takaran Ideal agar Konsumsi Kopi Tak Picu Peningkatan Tekanan Darah
Ilustrasi minum kopi. (shutterstock)

Suara.com - Konsumsi kopi merupakan salah satu faktor risiko dari hipertensi atau tekanan darah tinggi. Lantas, di tengah tren kopi susu kekinian seperti sekarang, apakah bisa memicu peningkatan kasus hipertensi?

Disampaikan Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH) dr Tunggul D. Situmorang SpPD-KGH, sejauh tidak melebihi batas, konsumsi kopi boleh-boleh saja dilakukan termasuk pada penderita hipertensi. Bahkan menurut dia, sudah ada penelitian yang mengungkap manfaat mengonsumsi 2-3 cangkir kopi sehari karena mengandung antioksidan.

"Tetapi kalau ada orang yang jadi kebiasaan mengonsumsi kopi berlebihan, maka jelas terlihat bahwa setengah jam setelahnya mengukur tekanan darah itu pasti tekanan darah naik," ujar dr. Tunggul dalam Peringatan Hari Hipertensi Sedunia di Kementerian Kesehatan, Jumat (17/5/2019).

Dr. Tunggul menambahkan, pada pasien hipertensi dengan tekanan darah yang terkontrol, maka boleh-boleh saja mengonsumsi secangkir kopi sehari. Menurut dia, tidak ada larangan mengonsumsi makanan dan minuman tertentu bagi pasien hipertensi asal jumlahnya tidak berlebihan dan dibarengi konsumsi obat anti hipertensi yang teratur.

"Silahkan saja dalam batasan tertentu dan diukur juga kadar kafeinnya. Idealnya 1-2 gelas per hari boleh dengan kadar kafein yang jangan berlebihan," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono, mengatakan bahwa di Peringatan Hari Hipertensi Sedunia ini, masyarakat diimbau untuk lebih peduli memeriksakan tekanan darahnya secara teratur untuk menemukan penyakit ini lebih awal.

Pasalnya, jumlah kasus hipertensi di Indonesia sendiri tercatat 63.309.620 kasus, namun baru 5.571.246 kasus yang terdeteksi oleh tenaga kesehatan. Itu berarti, kata dia, ada sekitar 57 juta kasus hipertensi yang belum terdeteksi di Indonesia.

"Sekitar 7 dari 10 orang Indonesia tidak tahu bahwa dia mengidap hipertensi. Deteksi dini bisa dilakukan mandiri, misal kalau di rumah punya tensi sendiri atau mendatangi faskes berkala," tandasnya.

Komentar

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini