Diet Keto, Hanya Boleh Dilakukan Maksimal 6 Bulan

Lebih dari 6 bulan, akan muncul efek samping yang tak diinginkan. Seperti apa?

Suara.Com
Vania Rossa | Risna Halidi
Diet Keto, Hanya Boleh Dilakukan Maksimal 6 Bulan
Diet ketogenic yang dikenal pula dengan sebutan diet keto, yaitu diet karbohidrat. (Shutterstock)

Suara.com - Berbagai cara dilakukan untuk mendapatkan berat badan ideal. Salah satunya dengan menerapkan diet keto yang menekankan pentingnya pola makan rendah karbohidrat namun tinggi lemak.

Tapi menurut ahli gizi, dr. Samuel Oetoro, SpGK, diet keto hanya boleh diterapkan paling lama selama enam bulan saja.

"Menurut penelitian, idealnya hanya tiga sampai enam bulan. Setelah enam bulan, efek samping akan keluar," kata dr. Samuel di Jakarta baru-baru ini.

Efek samping yang dr. Samuel maksud adalah masalah kolesterol tinggi, asam urat tinggi, dan fungsi ginjal yang menurun.

Meski demikian, dr. Samuel setuju bahwa diet keto relatif mampu menurunkan berat badan. Namun bila selama enam bulan berat badan tak kunjung berubah, ia menyarankan untuk beralih menjalani konsep diet mediterania.

"Diet mediterania banyak menggunakan olive oil. Mediteranian bagus, orang Yunani insiden diabetesnya bahkan yang terendah di dunia," tambahnya.

Selanjutnya, dr. Samuel juga menekankan perlunya tes genetik yang diklaim berpengaruh pada sifat, fisik, kesehatan, dan respon tubuh terhadap berbagai macam nutrisi.

Itu juga alasan mengapa diet tertentu akan bekerja dengan cara berbeda pada semua orang tergantung genetiknya.

"Karena bermain sudah pada gen bukan di sel, ada kromosom ada DNA. Di DNA itulah ada gen, jadi sudah bagian yang terkecil dari tubuh kita. Jadi tingkat keberhasilannya, harus berhasil," kata dr. Samuel.

Masalahnya, hasil genetik yang didapat perlu 'diterjemahkan' oleh dokter spesialis seperti dokter gizi dalam bentuk makanan. Kalau sudah begitu, akan dilihat apakah makanan A akan memberikan efek pada berat badan (naik/turun/tetap) kepada pemilik gen tertentu.

Selaras dengan pernyataan dr Samuel, Regional Product Executive Prodia, Fakhril Akmal, S.Farm, Apt, mengungkapkan pentingnya mengetahui kebutuhan tubuh agar dapat memilih dengan tepat makanan ataupun jenis kegiatan fisik yang sesuai melalui pemeriksaan nutrigenomics, salah satu rangkaian pemeriksaan Prodia Genomics.

"Ini cukup dilakukan satu kali seumur hidup, untuk dapat mengetahui efek dari nutrisi terhadap gen, serta interaksi antara gen dan nutrisi yang berkaitan dengan kesehatan sehingga dapat digunakan sebagai baseline dan guidence untuk melakukan gaya hidup yang sesuai," tutup Fakhril.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini