Selain ISPA, Penyakit Lambung dan Dehidrasi Juga Ancam Korban Kabut Asap

Korban kabut asap di Kalimantan dan Sumatera wajib mewaspadai penyakit yang bisa merenggut nyawa.

Suara.Com
M. Reza Sulaiman
Selain ISPA, Penyakit Lambung dan Dehidrasi Juga Ancam Korban Kabut Asap
Siswa mengenakan masker saat pulang sekolah di sekitar lokasi kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (16/9/2019). (Antara)

Suara.com - Selain ISPA, Penyakit Lambung dan Dehidrasi Juga Ancam Nyawa Korban Kabut Asap

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi penyakit utama yang dikeluhkan korban kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan.

Namun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan bahwa ancaman kematian justru datang dari dua penyakit lain, yakni penyakit lambung gastroenteritis dan dehidrasi.

dr. Ahmad Yurianto, Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Pusat Krisis Kesehatan, menyebut berkaca pada bencana serupa tahun 2015 lalu, anak-anak dan balita menjadi kelompok paling rentan mengalami kematian.

"Saat itu sebenarnya episode yang diawali kekeringan dan sulit dapat air bersih sehingga yang muncul gastroenteritis. Terlambat melakukan rujukan karena memang warga takut asap di luar sehingga kematian ada. Informasi yang ramai meninggal karena asap padahal bukan," ungkapnya, dikutip dari Sehatnegeri, Selasa (17/9/2019).

Berkaca dari pengalaman tersebut, ketersediaan air bersih menjadi penting. Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek menyebut penanggulangannya bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna.

Ia mengatakan bahwa Poltekkes sempat menciptakan teknologi tepat guna berupa penjernih air dan berhasil menjernihkan air gambut di Kalimantan.

"Kalau sudah musim kemarau yang utama itu air. Poltekkes sudah bisa menjernihkan air gambut, kecil alatnya," kata Menkes.

Selain itu, Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Batam 4 tahun lalu juga membuat teknologi penjernih air agar bisa langsung minum. Teknologi tersebut dijadikan replika untuk daerah agar bisa mengembangkan sendiri.

dr. Yuri menambahkan teknologi tepat guna lainnya adalah oksigen konsentrator. Tim Pusat Krisis Kesehatan sempat memantau Puskesmas Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, yang bermasalah karena kabut asap yang begitu pekat.

Helikopter waterbombing parkir di Lapangan Udara (Lanud) Sri Mulyono Herlambang yang bersebelahan dengan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Sumsel, Senin (16/9). [ANTARA FOTO/Feny Selly]
Helikopter waterbombing parkir di Lapangan Udara (Lanud) Sri Mulyono Herlambang yang bersebelahan dengan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Sumsel, Senin (16/9). [ANTARA FOTO/Feny Selly]

"Kita datangi, kita beri oksigen konsentrator kemudian Puskesmasnya kita tutup pakai kain dakron. Tim Puskris mau mengecek lagi ke sana," tambah dr. Yuri.

Rencananya, tambah dr. Yuri, kalau oksigen konsentrator ini sesuatu yang bagus maka Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer dapat meminta Puskesmas untuk menggunakan oksigen konsentrator.

"Ke sini juga, kami mengirim (oksigen konsentrator) ke Riau," katanya.

Terkait teknologi tepat guna ini, Menkes Nila mengatakan bisa dijadikan contoh untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan akibat Karhutla.

"Ini bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya. Bisa kita gunakan untuk masyarakat. Jangan sampai kita telat lagi dalam pencegahan," tutupnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini