Alexa
Senin, 23 Oktober 2017

Begini Jadinya Kalau Bocah Cilik Jadi 'Menteri'

Kegiatan "Sehari Jadi Menteri" merupakan agenda kedua yang diselenggarakan Plan International Indonesia.

Suara.Com
Madinah | Risna Halidi
Kegiatan 'Sehari Jadi Menteri' merupakan agenda kedua yang diselenggarakan Plan International Indonesia.[Risna]
Kegiatan 'Sehari Jadi Menteri' merupakan agenda kedua yang diselenggarakan Plan International Indonesia.[Risna]

Suara.com - Memperingati Hari Anak Perempuan Internasional, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) dan organisasi Plan International Indonesia mengundang 21 anak terpilih dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia untuk mengikuti program 'Sehari Jadi Menteri'.

Bukan hanya menjadi ajang roleplay atau bermain menteri-menterian, ke-21 anak tersebut diminta untuk menggelar rapat di kantor KPPPA.

Setiap anak memiliki peran masing-masing seperti menjadi menteri KPPPA menggantikan Yohana Yembise, Sekretaris Menteri, hingga deputi-deputi kementerian.

Berperan sebagai Menteri KPPPA sehari, ada Ayu Juwita dari Sumatera Utara yang masih berusia 18 tahun. Ia kemudian meminta jajaran di bawahnya untuk memberikan rekomendasi mengenai masalah maraknya pernikahan usia dini di Indonesia.

Beberapa rekomendasi yang muncul dari rapat tersebut salah satunya adalah membuat jurnalis anak, mengoptimalkan peran forum anak, Puskesmas layak anak, hingga berusaha mengikutasertakan anak dalam pembuatan kurikulum bekerja sama dengan kementerian terkait.

"Kami tentu akan menindaklajuti beberapa rekomendasi sekaligus tambahan hasil rekomendasi hari ini akan kami teruskan, akan kami follow up. Bukan hanya untuk unit-unit terkait, tapi juga kementerian terkait dan lembaga lainnya," ujar Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak, Lenny N Rosalin menanggapi hasil rekomendasi jajaran muda KemenPPPA di Gedung KPPPA, Jakarta, Rabu, (11/10/2017).

Kegiatan "Sehari Jadi Menteri" merupakan agenda kedua yang diselenggarakan Plan International Indonesia. Sebelum menjalankan perannya masing-masing, para remaja tersebut mengikuti pelatihan dasar selama tiga hari sejak 7-9 Oktober. Mereka diminta belajar mengenai berbagai macam keterampilan kepemimpinan dan pembekalan materi berkaitan dengan pencegahan perkawinan usia anak.

Terpopuler

Terkini