2 Brand Fashion Boohoo & Zacharia "Didemo" Karena Jual Item dari Bulu Hewan

Boohoo maupun Zacharia langsung stop jual produk dari bulu hewan seperti sweater dan ikat kepala.

Suara.Com
Ade Indra Kusuma | Risna Halidi
2 Brand Fashion Boohoo & Zacharia "Didemo" Karena Jual Item dari Bulu Hewan
Ilustrasi bulu hewan [shutterstock]

Suara.com - Dua produk fashion online, Boohoo dan Zacharia Jewellers, telah dipanggil secara terpisah oleh pihak berwenang di Inggris karena menjual sweater pompom dan ikat kepala yang katanya terbuat dari bulu hewan palsu, padahal sebenarnya itu adalah bulu hewan asli.

"Konsumen harus dapat percaya iklan yang mereka lihat dan dengar, dan mereka tentu tidak boleh disesatkan untuk membeli produk bulu palsu untuk kemudian tahu bahwa itu ternyata berasal dari bulu hewan asli. Itu tidak hanya menyesatkan, itu juga bisa sangat mengecewakan," kata Miles Lockwood, Direktur Keluhan Advertising Standards Authority di Inggris kepada The Guardian.

Kejadian ini telah menjadi masalah yang tersebar luas di Inggris. 

Mnegutip Nypost, kelompok aktivis hewan Humane Society International kini telah bertindak dengan mengirim sampel untuk pengujian lab, yang kemudian mengonfirmasi bahwa bulu hewan yang digunakan adalah bulu kelinci.

Baik Boohoo maupun Zacharia langsung berhenti menjual produk-produk dari bulu hewan seperti sweater dan ikat kepala.

"Kami fokus terhadap masalah penjualan bulu hewan asli di salah satu produk kami. Kami memiliki kebijakan dan prosedur yang kuat untuk memastikan bahwa kami bisa mematuhi (larangan) ini. Mengikuti penyelidikan, barang tersebut telah dihapus dari penjualan. Kami terus menyelidiki masalah ini secara internal dan dengan pemasok yang bersangkutan, sebagai masalah prioritas," tulis perwakilan Boohoo.

Sementara itu, Zacharia menyalahkan produsen Cina untuk campur-baur dan menarik produknya dari Amazon.

"Sama sekali tidak dapat diterima saat konsumen yang penuh kasih membeli bulu hewan palsu disesatkan dengan kenyataan bahwa item yang dibeli adalah bulu hewan asli," kata Claire Bass, direktur eksekutif Humane Society International kepada BBC.

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini