Minggu, 17 Februari 2019

Terbuka Soal Kesehatan Mental, Hubungan dengan Pasangan Lebih Bahagia

Masalah kesehatan mental ternyata bisa mempengaruhi kualitas hubungan Anda dengan pasangan.

Suara.Com
Ririn Indriani | Dinda Rachmawati
Terbuka Soal Kesehatan Mental, Hubungan dengan Pasangan Lebih Bahagia
Ilustrasi terbuka soal kesehatan mental bisa membuat hubungan dengan pasangan lebih bahagia. (Shutterstock)

Suara.com - Suka membicarakan kesehatan mental yang dihadapi pada pasangan secara terbuka, ternyata bisa menjadi tanda hubungan sehat dan bahagia lho!

Kesimpulan ini didapat dalam sebuah survei terbaru dari eharmony. Survei ini dilakukan mengingat masalah kesehatan mental ternyata mempengaruhi sebagian besar populasi dunia, dengan dua dari setiap tiga orang kemungkinan akan mengalami masalah kesehatan mental di beberapa titik selama masa hidup mereka.

Inilah yang menjadi alasan betapa pentingnya seseorang berbicara dengan teman, keluarga atau kolega tentang masalah kesehatan mental yang dihadapinya. Apalagi Mental Health Foundation mengklaim membicarakan soal kesehatan mental kepada orang-orang terdekat terbukti bermanfaat bagi kesejahteraannya.

Hal yang sama berlaku untuk mereka yang sedang berada dalam suatu hubungan, sebagaimana diuraikan dalam laporan kedua eharmony, yang disebut sebagai 'Indeks Kebahagiaan', yang telah dirilis dua tahun berturut-turut.

Lebih dari 2.000 orang Amerika Serikat (AS) di atas usia 21 tahun diwawancarai untuk laporan tersebut, yang ditugaskan oleh eharmony dan dilakukan oleh perusahaan riset pasar Harris Interactive.

Kelompok peserta terdiri dari individu heteroseksual dan LGBT +, yang semuanya sudah menikah, tinggal bersama pasangan atau dalam hubungan jangka panjang.

Menurut temuan survei, lebih dari empat dari 10 pasangan mengalami masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan kurangnya perhatian dan gangguan hiperaktif.

Dari orang-orang yang diwawancarai, empat dari lima orang merasa nyaman berbicara tentang masalah kesehatan mental dengan pasangan mereka. Ini dilaporkan berdampak positif pada lebih dari setengah hubungan mereka.

Di sisi lain, orang-orang yang merasa sulit berbicara tentang kesehatan mental dengan pasangannya, cenderung mengaku tidak bahagia dalam hubungan.

Di antara individu yang digolongkan sebagai Generasi Z (biasanya lahir antara pertengahan 1990-an dan pertengahan 2000-an), tujuh dari 10 melaporkan afiliasi positif antara berbicara tentang kesehatan mental dengan pasangannya dan memiliki hubungan yang bahagia.

"Yang mengejutkan kami tentang data kesehatan mental adalah seberapa terbuka Gen Z berbicara tentang hal itu," ujar Jeannie Assimos, kepala saran di eharmony dilansir Independent.

Selama ini, sambung dia, generasi Z dianggap lebih dangkal dan lebih peduli pada penampilan, tetapi data menunjukkan mereka justru paling progresif mengenai kesehatan mental dan paling komunikatif dengan pasangannya. "Pada gilirannya, hubungan lebih bahagia ," ungkapnya lagi.

Sekadar diketahui, kecemasan memang menjadi masalah kesehatan mental paling umum yang mempengaruhi orang dewasa dalam hubungan.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini