Akhir Tahun, London Siap Buka Museum Vagina Pertama di Dunia

Museum Vagina di London menjadi museum fisik pertama yang didedikasikan untuk alat kelamin perempuan itu.

Suara.Com
Ade Indra Kusuma | Dinda Rachmawati
Akhir Tahun, London Siap Buka Museum Vagina Pertama di Dunia
Museum Vagina Pertama di Dunia

Suara.com - Akhir Tahun, London Siap Buka Museum Vagina Pertama di Dunia.

JIka sebelumnya ada Museum Penis di Islandia, kini museum Vagina pertama di dunia akan dibuka di London pada akhir tahun. Namun menjelang pembukaannya, museum ini perlu mengumpulkan 300.000 poundsterling atau sekira Rp 5 M terlebih dahulu.

Pendirinya, Florence Schechter meluncurkan kampanye crowdfunding pada hari Jumat mendesak masyarakat untuk memberikan sumbangan yang akan digunakan untuk menyelenggarakan pameran, malam komedi dan pemain di situs budaya inovatif.

Museum Vagina pertama kali diluncurkan sebagai proyek pop-up pada Maret 2017. Schechter berharap situs fisik permanen, di sebuah ruang di Camden Market akan fokus untuk menghilangkan stigma yang selama ini tak pernah lepas dari vagina, sambil menyoroti masalah penting lainnya yang mempengaruhi perempuan, seperti persetujuan atau citra tubuh.

Saat ini Austria sudah memiliki museum vagina virtual pertama. Karenanya, Museum Vagina di London akan menjadi museum fisik pertama yang didedikasikan untuk alat kelamin perempuan tersebut.

"Museum Vagina sangat penting karena area tubuh ini sangat distigmatisasi dan ini memiliki konsekuensi dunia nyata seperti orang yang terlalu malu untuk mendapatkan informasi tentang serviks," kata Schechter.

"Prioritas utama kami adalah melawan tabu yang mengelilingi tubuh kita dan menyediakan tempat di mana kita dapat melakukan percakapan yang jujur dan terbuka," ungkap dia lagi.

Schechter menambahkan bahwa museum ini juga akan menyelenggarakan program penjangkauan di mana ia berharap dapat bekerja sama dengan pendidik seks dan ahli hubungan, serta profesional medis untuk memberikan layanan yang lebih baik dan dukungan kepada komunitas transgender dan interseks.

Dr Alison Wright, wakil presiden Royal College of Obstetricians and Gynecologists, memuji museum ini sebagai aset besar dalam hal kemajuan percakapan seputar kesehatan perempuan.

Komentar

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini