Sesak Napas Hingga Nyaris Meninggal Saat Makan Okonomiyaki, Kok Bisa?

Alami reaksi alergi, perempuan nyaris meninggal saat makan okonomiyaki.

Suara.Com
M. Reza Sulaiman | Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Sesak Napas Hingga Nyaris Meninggal Saat Makan Okonomiyaki, Kok Bisa?
Perempuan alami sesak napas bahkan nyaris meninggal setelah makan okonomiyaki. (Shutterstock)

Suara.com - Sesak Napas Hingga Nyaris Meninggal Saat Makan Okonomiyaki, Kok Bisa?

Seorang perempuan mengalami sesak napas hingga nyaris meninggal dunia setelah makan okonomiyaki. Apa penyebabnya?

Dikutip Himedik dari Daily Mail, perempuan tersebut membuat okonomiyaki yang akan disantapnya bersama keluarga. Tak ia ketahui, tepung yang digunakan ternyata dipenuhi tungau debu.

Sontak, reaksi alergi pun dialami perempuan tersebut. setelah beberapa gigitan okonomiyaki, ia tiba-tiba mengalami mengap-mengap, dipenuhi ruam, dan kesulitan bernapas. Reaksi alerginya juga mulai mengalami peningkatan hingga ia merasakan sakit perut dan diare.

Pemeriksaan dokter menyebut ia mengalami syok anafilaksis, yakni reaksi alergi yang bisa muncul, karena memakan benda-benda tertentu.

Dalam kasus perempuan ini, ia memakan tungau debu akibat tepung yang disimpan dalam kantong terbuka selama setahun di tempat penyimpanan di bawah lantai.

Ilustrasi kutu beras (Shutterstock).
Tungau debu bisa menempel di makanan yang tak disimpan dengan baik, termasuk Okonomiyaki yang membuat seorang perempuan sesak napas nyaris meninggal, karena alergi tungau debu. (Shutterstock).

Setelah dia memberikan sampel tepung, para ilmuwan menemukan hingga 4.500 tungau debu Dermatophagoides farinae per gram. Mereka juga menemukan 11 dari spesies tungau mikroskopis Chelacaropsis moorei per gram tepung.

Tes alergi kemudian mengungkapkan bahwa perempuan itu memiliki alergi tungau debu, tetapi tidak alergi terhadap bahan-bahan okonomiyaki lainnya, seperti telur, ubi, babi, udang, dan cumi-cumi.

Pasien tersebut melalui masa pemulihan dengan cepat setelah diberi steroid oral dan IV serta antihistamin. Insiden ini kemudian ditulis dalam BMJ Case Reports oleh Dr Katsunori Masaki, yang merawat pasien. 

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini