Tidak Melulu Baik, Ini Kekurangan Belanja Perawatan Kecantikan Lewat Online

Ternyata ada kekurangan belanja perawatan kecantikan lewat online.

Suara.Com
Silfa Humairah Utami | Dini Afrianti Efendi
Tidak Melulu Baik, Ini Kekurangan Belanja Perawatan Kecantikan Lewat Online
Ilustrasi belanja online. (shutterstock)

Suara.com - Tidak Melulu Baik, Ini Kekurangan Belanja Perawatan Kecantikan Lewat Online.

Kini hanya modal jari di gadget semua kebutuhan bisa terpenuhi termasuk belanja kebutuhan perawatan kecantikkan. belanja online semakin memudahkan perempuan untuk memiliki produk kecantikan tanpa harus ke mal.

Tapi siapa sangka? saat belanja perawatan kecantikkan secara online, masih ada kelemahan yang ditemui. Seperti diungkap Co-Founder dan CEO Social Bella, John Rasjid dimana customer butuh touch and feel produk yang dijual.

"Kita juga banyak terima inrequest dari orang-orang buka toko, karena memang kita perlu melihat touch and feel mencium baunya apakah cocok dengan mereka, itu dari sisi customer," ujar John dalam konferensi pers 'Kemitraan Strategis Social Bella' di Hotel Fairmont, Jakarta Selatan, Senin (2/9/2019).

:Co-Founder dan CEO Social Bella, John Rasjid. (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)
:Co-Founder dan CEO Social Bella, John Rasjid. (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)

Dari sana Social Bella tidak hanya bergerak secara online tapi juga melayani secara offline dengan membuka toko. Strategi ini dinamakan Omni Channel, strategi bisnis lintas channel online dan offline sekaligus.

John mengatakan, dengan metode omni channel, produk skincare paling banyak dicari dibanding produk makeup, haircare, hingga body care. Bukan hanya di Social Bella, skincare juga jadi favorit di seluruh platform penjualan di Indonesia.

"Skincare lebih banyak, karena memang di Indonesia skincare itu jadi nomor satu kategori dari keseluruhan personal care industri beauty di Indonesia, kedua baru colour cosmetic," sambungnya.

Hingga 2019, platform Social Bella mendapat lebih dari 20,2 juta pengunjung yang telah bergabung sejak 2018, gabungan dari website Sociolla, platform SOCO dan beauty journal. Pada 2021 rencananya Sociolla menargetkan 100 juta pengguna.

"Dengan pendanaan ini, kami berharap dapat menjangkau lebih banyak pecinta produk dan layanan kecantikkan di Indonesia. Target kami adalah merangkul 100 juta pengguna (unique visitors) ke dalam ekoskstem terpadu pada tahun 2021," sambung Co-Founder dan Presiden Social Bella, Christopher Madiam menjawab kebutuhan belanja perawatan kecantikan offline dan online.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini