Kenapa Banyak Orang Ketakutan Jadi Jomblo? Ini Penjelasannya

Bahkan, ada yang menganggap jomblo layaknya kutukan.

Suara.Com
Rima Sekarani Imamun Nissa
Kenapa Banyak Orang Ketakutan Jadi Jomblo? Ini Penjelasannya
Ilustrasi putus cinta, patah hati. (Shutterstock)

Suara.com - Sebagian orang Indonesia menganggap menyandang status jomblo sebagai hal yang sangat menyedihkan. Para jomblo juga seringkali dianggap nelangsa dan tidak bahagia.

Berbagai cap negatif yang menempel pada orang jomblo tanpa sadar bisa menanamkan ketakutan tak beralasan. Akhirnya, berbagai cara dilakukan agar punya pasangan. Tidak penting mau cinta atau tidak, pokoknya asal jangan jomblo saja.

Melansir Hellosehat, istilah jomblo untuk menggambarkan orang-orang yang tidak punya pasangan hidup sebetulnya sudah ada sejak tahun 1993. Namun, pergeseran makna ke arah negatif baru semakin populer di era 2000an.

Sekarang, mereka yang berstatus single bahkan sering menjadi bahan olokan karena dianggap tidak laku di pasaran. Jomblo seolah menjadi aib yang begitu memalukan.

Para ahli menyebut fenomena takut jadi jomblo dengan istilah singlism. Dalam penelitian yang dilakukan Spielmann dkk pada 2013 lalu, sindrom takut jomblo diartikan sebagai perasaan khawatir, cemas, dan sulit menjalani hidup saat tidak memiliki pasangan.

Ilustrasi (shutterstock)
Ilustrasi cemas jadi jomblo. (shutterstock)

Penelitian terkait sindrom takut jomblo itu telah dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology. Fenomena ini bisa dialami oleh siapa saja, baik mereka yang tidak sedang punya pacar, belum pernah memiliki pasangan, bahkan bagi yang sedang menjalani hubungan romantis.

Bagi mereka yang sudah punya pasangan, sindrom singlism menimbulkan kecemasan berlebihan soal kemungkinan hubungan kandas. Kekhawatiran yang ada kemudian membuat orang tersebut mati-matian bertahan, bahkan meski nyatanya sama sekali tidak merasa bahagia atau malah terjebak dalam hubungan tidak sehat.

Selanjutnya saat hubungan terpaksa berakhir, ia lebih memilih menurunkan standar dibanding harus hidup sendiri. Mereka tidak mau lama-lama menjadi jomblo.

Jika Anda mulai ketakutan dengan status jomblo secara berlebihan atau tanpa alasan jelas, coba alihkan perasaan dan pikiran negatif dengan melakukan kegiatan positif yang mampu memperbaiki mood.

Ilustrasi putus cinta (Shutterstock).
Ilustrasi putus cinta (Shutterstock).

Tidak apa-apa menikmati hidup sendiri sambil terus mencari belahan jiwa terbaik tanpa harus dikejar waktu. Ingatkan diri sendiri bahwa Anda tetap bisa bahagia meski tidak punya pacar atau pasangan.

Bagaimanapun, mendapatkan kebahagiaan adalah tanggung jawab diri sendiri, bukan karena merasa dibebani pandangan orang lain. Orang lain juga tidak bertanggung jawab untuk membahagiakan Anda,

Namun jika rasa cemas menjadi jomblo itu sudah mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya segera bicara pada psikolog atau psikiater untuk mencari bantuan.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini