Sempat Terhalang, Shahla Yasini Berhasil Jadi Peselancar Hijab Pertama

Perjuangannya dirinya untuk menjadi seorang peselancar berhijab pertama di Iran tidaklah mudah.

Suara.Com
Rima Sekarani Imamun Nissa | Kintan Sekarwangi
Sempat Terhalang, Shahla Yasini Berhasil Jadi Peselancar Hijab Pertama
Ilustrasi perempuan berhijab. (Shutterstock)

Suara.com - Salah satu olahraga yang memicu adrenalin adalah berselancar. Umumnya, olahraga ini dilakukan oleh laki-laki. Namun, seiring populernya selancar, banyak perempuan yang tertarik dengan olahraga ekstrem ini.

Salah satunya adalah seorang wanita bernama Shahla Yasini. Dilansir dari laman BBC, bahkan dirinya baru-baru ini diklaim menjadi peselancar berhijab pertama asal Iran.

Kecintaan Shahla pada selancar bermula ketika peselancar wanita Irlandia Easkey Britton mengunjungi negara Iran dan mengajarkan orang-orang di negara tersebut.

Shahla Yasini ikut belajar langsung dari ahlinya kala itu. Ia diajati bagaimana cara berselancar di sebuah pantai di desa terpencil di Ramin, Iran. Easkey Britton mendobrak tradisi di salah satu daerah yang paling konservatif di Iran itu.

Ramin adalah sebuah desa terpencil di ujung selatan Iran yang terletak dengan beberapa mil dari kota Chabahar. Desa ini menawarkan tempat yang sangat bagus untuk berselancar.

Aktivitas selancar yang termasuk populer di Kepulauan Mentawai. [Shutterstock]
Aktivitas selancar yang termasuk populer di Kepulauan Mentawai. [Shutterstock]

Namun, olahraga selancar didominasi oleh kaum pria di negeri tersebut. Baru ketika Presiden Hassan rohani menyerukan untuk mengakhiri larangan bagi wanita, atlet-atlet wanita bermunculan.

Shahla Yasini termasuk salah satu wanita yang pernah mendobrak larangan tersebut dan kini menjadi atlet selancar. Sosok Shahla Yasini pun sudah mendunia.

Dia menjadi subyek dari fotografer Italia, Giulia Frigieri, untuk bukunya berjudul Surfing Iran. Kini dikenal sebagai peselancar berhijab pertama di Iran. 

Meski begitu, Shahla Yasini tetap merasa tidak mudah untuk menekuni olahraga air tersebut di negerinya. Hambatan pertamanya soal adanya aturan berpakaian di Iran.

Ilustrasi selancar. (Unsplash/Elizeu Dias)
Ilustrasi selancar. (Unsplash/Elizeu Dias)

Selain itu, dia juga berhadapan dengan betapa masih sangat konservatifnya orang-orang di Iran sehingga mereka memandang Shahla sebelah mata.

"Kurangnya kebebasan mencegah wanita untuk bergerak cepat dan merasa nyaman di dalam air. Ini juga menjauhkan wanita lainnya untuk aktif berolahraga, menghentikan langkah mereka mengambil kesempatan untuk dekat dengan air," cerita Shahla.

"Selain itu, mentalitas yang sangat didominasi pria adalah kendala terbesar, terutama di sini, di Baluchestan (propinsi di Iran). Diriku sendiri dan wanita lainnya yang terlibat dalam gerakan surfing harus menghadapi dan melawan itu," lanjut Shahla Yasini.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini