Tuntut Persamaan Hak, Ketahui Sejarah Hari Anak Perempuan Internasional

Hari Anak Perempuan Internasional diperingati setiap tanggal 11 Oktober.

Suara.Com
Rima Sekarani Imamun Nissa
Tuntut Persamaan Hak, Ketahui Sejarah Hari Anak Perempuan Internasional
Ilustrasi anak perempuan. (Unsplash/rahmani KRESNA)

Suara.com - Sejak 2012, 11 Oktober telah diperingati sebagai Hari Anak Perempuan Internasional. Namun, apa yang sebenarnya ingin dicapai dari perayaan ini?

Melansir laman resmi PBB, hampir 25 tahun yang lalu, sekitar 30.000 wanita dan pria dari hampir 200 negara berada di Beijing, China, dalam rangka The Fourth World Conference on Women. Dalam konferensi dunia itu, mereka bertekad mengakui hak-hak wanita dan anak perempuan sebagai hak asasi manusia.

Forum internasional tersebut kemudian memuncak dengan diadopsinya Beijing Declaraion and Platform for Action sebagai agenda kebijakan paling komprehensif untuk pemberdayaan perempuan.

Pada tahun-tahun berikutnya, para perempuan memimpin gerakan global terkait sejumlah isu, mulai dari hak kesehatan seksual dan reproduksi hingga kesetaraan upah.

Dampaknya, sekarang lebih banyak anak perempuan dapat berpartisipasi dan merampungkan sekolah. Angka pernikahan dini dan tuntutan menjadi ibu di usia anak-anak pun berangsur menurun. Selain itu, makin banyak anak perempuan bisa memperoleh keterampilan yang mereka butuhkan untuk menjadi unggul dalam dunia kerja di masa depan.

Ilustrasi kompetisi untuk anak-anak. (Shutterstock)
Ilustrasi anak perempuan. (Shutterstock)

Tanggal 19 Desember 2011, Majelis Umum PBB mengadopsi Resolution 66/170 dan menyatakan 11 Oktober sebagai Hari Anak Perempuan Internasional atau juga dikenal dengan Hari Anak Perempuan Sedunia.

Tujuannya demi menyoroti kebutuhan dan mengatasi tantangan yang dihadapi anak perempuan, sembari menggalakkan pemberdayaan anak perempuan dan pemenuhan hak asasi manusia mereka.

Dewasa ini, gerakan pemberdayaan anak perempuan semakin berkembang. Mereka teroganisir untuk membantu menangani masalah-masalah seperti pernikahan anak, ketidaksetaraan pendidikan, kekerasan berbasis gender, perubahan iklim, harga diri, serta hak anak perempuan untuk memasuki tempat-tempat ibadah atau ruang publik selama menstruasi.

Anak Kecil Main Game [shutterstock]
Ilustrasi ibu dan anak perempuannya. (Shutterstock)

Sementara itu, tema besar peringatan Hari Anak Perempuan Sedunia 2019 adalah GirlForce: Unscripted and Unstoppable.

"Kita perlu menegakkan persamaan hak, suara, dan pengaruh anak perempuan dalam keluarga, masyarakat, dan bangsa kita," ungkap Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Gutterres.

"Anak perempuan dapat menjadi agen perubahan yang kuat dan tidak ada yang mencegah mereka berpartisipasi penuh dalam semua bidang kehidupan," lanjutnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini