Senin, 19 November 2018

Sejarah Pembangunan dan Renovasi Masjidil Haram

Sejak sebelum masjid dibangun, hingga proyek perluasan bernilai miliaran Dolar.

Suara.Com
Ruben Setiawan
Masjidil Haram dalam ilustrasi di Trousset encyclopedia tahun 1886 - 1891. (Shutterstock)
Masjidil Haram dalam ilustrasi di Trousset encyclopedia tahun 1886 - 1891. (Shutterstock)

Suara.com - Angin kencang dan hujan yang melanda Kota Mekah, Arab Saudi, menyebabkan sebuah crane di Masjidil Haram roboh dan menewaskan lebih dari seratus orang, Jumat (11/9/2015). Crane yang roboh merupakan salah satu alat yang dipakai dalam proyek pengembangan Masjidil Haram.

Sejak dibangun pertama kali pada tahun 692, Masjidil Haram telah mengalami sejumlah proyek renovasi. Dari masa ke masa, proyek demi proyek pembangunan dan renovasi dilakukan oleh penguasa Kota Mekah yang berbeda-beda.

Berikut ini sejarah pembangunan dan perbaikan Masjidil Haram, tempat yang dijadikan tempat tujuan ibadah haji bagi seluruh umat Islam dari berbagai penjuru dunia.

Sebelum Masjidil Haram dibangun

Menurut Agama Islam, Ka'bah sudah lebih dahulu ada sebelum Masjidil Haram dibangun. Adalah Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail, yang pertama kali memasang pondasi Ka'bah. Allah SWT yang menunjukkan kepada Ibrahim lokasi di mana dia harus mendirikan Ka'bah, yakni dekat dengan lokasi Sumur Zamzam.

Ka'bah mulai dibangun Ibrahim dan Ismail pada 2.130 SM. Sebuah Batu Hitam, atau Hajar Aswad, yang dibawakan oleh malaikat utusan Allah SWT, dipasang di sudut sebelah timur Ka'bah.

Renovasi Pertama

Renovasi pertama dilaksanakan pada tahun 692. Sebelum renovasi, Masjidil Haram hanyalah sebuah ruang terbuka dengan Ka'bah di tengahnya.

Renovasi besar pertama yang dilakukan pada Masjidil Haram adalah pembangunan tembok-tembok di sekeliling Ka'bah. Selain itu, atap masjid yang sudah dibangun juga dihiasi dengan beragam dekorasi.

Pada akhir abad ke-8, pilar masjid yang terbuat dari kayu, diganti dengan pilar marmer. Sayap-sayap bangunan masjid juga diperlebar dan ditambah dengan pembangunan sebuah menara masjid. Seiring kian bertambahnya jamaah haji yang datang dari berbagai penjuru dunia, pilar marmer dan 3 menara tambahan pun dibangun.

Masa Kekaisaran Ottoman Turki

Tahun 1957, Sultan Selim II dari Kekaisaran Ottoman menugaskan arsitek ternama Turki, Mimar Sinan untuk merenovasi Masjidil Haram. Sinan mengganti atap masjid yang rata dengan kubah lengkap dengan hiasan kaligrafi di bagian dalamnya.

Sinan juga menambah empat pilar penyangga tambahan yang disebut-sebut sebagai rintisan dari bentuk arsitektur mesjid-mesjid modern.

Pada tahun 1621 dan 1629, banjir bandang melanda Mekah dan sekitarnya, mengakibatkan kerusakan pada Masjidil Haram dan Ka'bah. Pada masa kekuasaan Sultan Murad IV tahun 1629, Ka'bah dibangun kembali dengan batu-batu dari Mekah, sedangkan Masjidil Haram juga mengalami renovasi kembali.

Pada renovasi tersebut, ditambahkan tiga menara tambahan sehingga keseluruhan menara menjadi tujuh. Marmer pelapis lantai pun diganti dengan yang baru. Sejak saat itu, arsitektur Masjidil Haram tak berubah hingga hampir tiga abad.

Era Kekuasaan Raja-raja Saudi

Renovasi besar pertama yang dilakukan di era Raja-raja Saudi berlangsung pada tahun 1955 hingga tahun 1973. Selain penambahan tiga menara, atap masjid pun diperbaiki, sementara lantai masjid diganti dengan marmer yang baru.

Pada renovasi ini, dua bukit kecil Shofa dan Marwah dibuat di dalam Masjidil Haram. Dalam renovasi ini pula, seluruh fitur yang dibangun oleh arsitek kekaisaran Ottoman, termasuk empat pilar, dirobohkan.

Renovasi kedua dilakukan ketika Arab Saudi dipimpin oleh Raja Fahd bin Abdulaziz Al Saud. Raja Fahd, pada tahun 1982 hingga 1988, membangun sebuah sayap bangunan baru dan area shalat ruang terbuka di Masjidil Haram.

Renovasi ketiga dilakukan pada tahun 1988 hingga 2005. Pada renovasi ini, dibangun beberapa menara tambahan, serta area shalat di dalam dan sekitar masjid. Sebuah kediaman untuk raja juga dibangun berhadapan dengan masjid.

Selain itu, dibangun pula 18 gerbang tambahan, tiga kubah, serta 500 pilar marmer. Masjidil Haram juga dilengkapi dengan pendingin udara, eskalator, dan sistem drainase.

Masa Kekuasaan Raja Abdullah bin Abdulaziz

Pada tahun 2007, Almarhum Raja Abdullah semasa hidupnya memulai proyek raksasa untuk memperluas kapasitas masjid agar bisa menampung hingga 2 juta jamaah. Proyek ini diprediksi akan rampung pada tahun 2020.

Ekspansi masjid dimulai pada bulan Agustus 2011. Area masjid yang semula seluas 356.000 m2 akan dikembangkan menjadi 400.000 m2. Sebuah gerbang yang diberi nama Gerbang Raja Abdullah dibangun bersama tambahan dua menara masjid.

Proyek pembangunan di bawah Raja Salman bin Abdulaziz

Tahta Kerajaan Arab Saudi jatuh ke tangan Salman bin Abdulaziz, setelah Raja Abdullah wafat. Raja Salman, pada bulan Juli 2015 lalu, meluncurkan lima proyek ekspansi Masjidil Haram agar bisa mengakomodasi lebih dari 1,6 juta jamaah haji.

Proyek ini mencakup pembangunan gedung, terowongan, gedung-gedung tempat tinggal bagi jamaah haji, serta sebuah jalan lingkar. Seperti dilansir thenational.ae, mengutip Kantor Pers Saudi, perluasan bangunan mencakup 1,47 juta meter persegi dan pembangunan 78 gerbang baru.

Sebanyak enam lantai untuk shalat untuk sembahyang, 680 eskalator, 24 elevator untuk jamaah berkebutuhan khusus, 21.000 toilet dan tempat wudhu.

Nilai proyek yang sudah digelar pada tahun 2011 oleh Almarhum Raja Abdullah ini mencapai 26,6 miliar Dolar AS. Pemegang tender proyek raksasa ini adalah Binladin Group.

Video Pilihan

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini