Sabtu, 16 Desember 2017

Lawan Deklarasi Trump, Hamas Serukan Intifada Gelombang Ketiga

"Trump sudah membuka 'gerbang neraka' di Yerusalem," tukasnya.

Suara.Com
Reza Gunadha
Karikatur mengenai intifada. [Cartoon Movement]
Karikatur mengenai intifada. [Cartoon Movement]

Suara.com - Hamas, salah satu faksi terkuat di Palestina, menyerukan agar rakyat negeri tersebut melakukan perlawanan setelah Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh, seperti dilansir Independent, Kamis (7/12/2017), menyerukan agar rakyat Palestina lintas faksi menggelar gelombang baru aksi intifada melawan Israel.

"Kami menyerukan kepada seluruh faksi dan rakyat Palestina untuk membangkitkan intifada gelombang ketiga di jalan-jalan untuk melawan zionis Israel," tegas Ismail dalam pidatonya.

Hamas menilai deklarasi Presiden AS Donald Trump mengenai status Yerusalem, merupakan langkah yang sama sekali salah.

"Trump sudah membuka 'gerbang neraka' di Yerusalem," tukasnya.

Ismail mengumumkan Hamas akan menggelar "hari kemarahan" pada Jumat (8/12) besok. Aksi protes dan perlawanan lainnya disebut akan dilakukan pada Jumat besok.

intifaḍa secara etimologi berasal dari bahasa Arab yang berarti "melepaskan diri". Intifada menjadi istilah untuk melakukan perlawanan di jalanan oleh rakyat Palestina terhadap militer Israel.

Intifada gelombang pertama dimulai pada tahun 1987 dan berakhir pada 1993, yakni ditandai dengan penandatanganan Persetujuan Oslo dan pembentukan Otoritas Nasional Palestina.

Sementara intifada gelombang kedua digelar sejak 29 September 2000 sampai 8 Februari 2005. Intifada tersebut dilakukan karena PM Israel saat itu, Ariel Sharon, dan 1.000 orang bersenjata memasuki lingkungan Masjid Al Aqsa.

Dalam intifada, warga sipil Palestina kerapkali meggunakan ketapel berpeluru batu untuk dilepaskan ke arah militer Israel. Sementara kelompok-kelompok dari Hamas maupun faksi-faksi komunis Palestina juga memakai senjata api.

Terpopuler

Terkini