Rabu, 18 Juli 2018

Depan Muka Netanyahu, Uni Eropa Tolak Yerusalem Ibu Kota Israel

Menemukan solusi komprehensif dan berkelanjutan untuk masalah Israel-Palestina penting bagi kepentingan Israel, terutama untuk kepentingan keamanan, kata Mogherini

Suara.Com
Reza Gunadha
Perwakilan Tinggi UE untuk Kebijakan Hubungan Luar Negeri dan Keamanan Federica Mogherini dan PM Netanyahu mengadakan konferensi pers, Brussel, Belgia, Senin (11/12/2017). [John Thys/AFP]
Perwakilan Tinggi UE untuk Kebijakan Hubungan Luar Negeri dan Keamanan Federica Mogherini dan PM Netanyahu mengadakan konferensi pers, Brussel, Belgia, Senin (11/12/2017). [John Thys/AFP]

Suara.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu menteri-menteri luar negeri negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa (UE) di Brussel, Belgia, Senin (11/12/2017) kemarin.

Netanyahu sendiri, tengah bermuhibah ke negara-negara UE untuk meredam protes, setelah Presiden AS Donald Trump mendeklarasikan pengakuan atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Rabu (6/12) pekan lalu.

Sebelum memulai pertemuan, Perwakilan Tinggi UE untuk Kebijakan Hubungan Luar Negeri dan Keamanan Federica Mogherini dan PM Netanyahu mengadakan konferensi pers.

Dalam konferensi pers itu, Mogherini mengatakan kunjungan Netanyahu adalah “peristiwa bersejarah”. Sebab, Netanyahu merupakan PM Israel pertama yang mengunjungi lembaga UE dalam 22 tahun terakhir.

Mogherini menuturkan, Netanyahu selanjutnya akan bertemu dengan para menteri luar negeri Uni Eropa untuk membahas proses perdamaian Timur Tengah, hubungan bilateral UE-Israel dan isu-isu regional sebagai agenda utama.

“Menemukan solusi komprehensif dan berkelanjutan untuk masalah Israel-Palestina penting bagi kepentingan Israel, terutama untuk kepentingan keamanan,” kata Mogherini, seperti dilansir Anadolu Agency, Selasa (12/12/2017).

Karena itu, UE akan terus berupaya untuk memulai kembali proses perdamaian antara kedua negara, tambah dia.

“Satu-satunya solusi yang realistis adalah solusi dua negara dalam kerangka perbatasan tahun 1967, yang akan memastikan bahwa Yerusalem menjadi ibu kota dari kedua negara," kata Mogherini.

Mogherini juga menegaskan, bahwa harus ada pencegahan meningkatnya ketegangan di kawasan. Dia juga mengecam serangan yang menargetkan orang-orang Yahudi di Eropa dan Israel.

Di lain sisi, Netanyahu mengatakan Eropa dan Israel adalah “sekutu penting” dan bekerja sama untuk perdamaian dan kesejahteraan.

"Kemitraan antara Israel dan Eropa penting bagi Israel dan juga Eropa,” kata dia.

Netanyahu juga mengklaim bahwa mereka telah menawarkan perdamaian kepada Palestina selama 100 tahun namun malah mendapatkan serangan terus-menerus.

“Masyarakat Palestina menyangkal keberadaan dan sejarah Israel. Yerusalem telah menjadi ibu kota bangsa Israel selama 3 ribu tahun,” ujarnya.

Menyebut bahwa umat Yahudi tidak pernah memutus ikatan dengan Yerusalem, Netanyahu mengatakan, “Namun ikatan ini disangkal dengan keputusan konyol di UNESCO dan di platform PBB yang berupaya mengingkari sejarah dan fakta sejarah.”

Netanyahu menilai, perdamaian hanya bisa dibangun dengan menerima kenyataan, "Trump hanya mengungkapkan fakta secara jelas,” tukasnya.

Netanyahu mengatakan, pemerintah AS akan menawarkan upaya perdamaian baru dalam masalah Israel-Palestina.

Dia juga menyatakan, masyarakat Palestina harus menerima keberadaan negara Yahudi dan kenyataan bahwa Yerusalem adalah ibu kota negara tersebut.

“Meski kita belum mencapai kesepakatan, saya yakin semua negara Eropa akan memindahkan kedutaan mereka ke Yerusalem dan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel,” tandasnya.

Terpopuler

Terkini