Sabtu, 20 Januari 2018

Eks Pendemo Ahok Mau PKS, PAN dan Gerindra Bersatu di Pilpres

Salah satu yang berharap adalah ormas FPI.

Suara.Com
Pebriansyah Ariefana | Dwi Bowo Raharjo
Jubir FPI Slamet Maarif di sela-sela aksi yang dilakukan Aliansi Tolak Kezaliman Facebook, di gedung perkantoran Capital Place, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jumat (12/1/2018). [Suara.com/Dwi Bowo Rahardjo]
Jubir FPI Slamet Maarif di sela-sela aksi yang dilakukan Aliansi Tolak Kezaliman Facebook, di gedung perkantoran Capital Place, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jumat (12/1/2018). [Suara.com/Dwi Bowo Rahardjo]

Suara.com - Mantan kelompok pendemo Basuki Tjahaja Purnama, Alumni Aksi 212 berharap Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Amanat Nasional berkoalisi di Pemilihan Presiden 2019. Salah satu yang berharap adalah ormas FPI.

Juru bicara FPI Slamet Maarif mengatakan ketiga partai itu ikut dalam aksi 212 yang mendemo Ahok karena tuduhan penistaan agama.

"Yang saya ajukan dan buka dialog dengan teman partai, saya ikut hadir, menginginkan koalisi partai 212, PKS, PAN dan Gerindra, tolong dipertahankan, tolong solid sampai 2019," ujar Slamet di depan kantor Facebook perwakilan Indonesia di Gedung perkantoran Capital Place, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jumat (12/1/2018).

Ketua Presidium Alumni Aksi 212 ini juga semula menginginkan Pilkada serentak 2018 ketiga partai tersebut bersatu.

"Termasuk di (Pilkada) 2018 ini kita menginginkan diberbagai wilayah terutama di 5 provinsi, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Sumatera agar tidak terpecah. Itu keinginan kami," kata dia.

Ternyata keinginan mereka tidak sesuai harapan, Partai Gerindra, PKS, dan PAN pecah kongsi di Pilkada Jawa Timur.

Gerindrara dan PKS memutuskan bersama dengan PDI Perjuangan dan PKB mengusung Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarno sebagai calon gubernur dan wakil gubernur. Sementara PAN bergabung dengan Partai Demokrat, Golkar, Nasdem, PPP, dan Hanura mengusung Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak.

"Adapun ternyata kebijakn partai berubah itu hak mereka. Tapi ada knsekwensi," katanya.

"Ketika kami Alumni 212 menginginkan tiga parti ini solid, ada satu wilayah diusung tiga parti ini tanpa mencampuradukkan dengan partai penista agama, pasti kita akan dukung habis-habisan," Slamet menambahkan.

Terpopuler

Terkini