Minggu, 17 Februari 2019

Pergerakan Senyap Kaum Sufi di Belakang Jokowi dan Prabowo

Ada ayat-ayat khusus yang dilafalkan dalam zikir mereka.

Suara.Com
Reza Gunadha | Erick Tanjung
Pergerakan Senyap Kaum Sufi di Belakang Jokowi dan Prabowo
[Suara.com/Aldie Syaf Bhuana]

Suara.com - Politik di Indonesia tak pernah sepenuhnya profan. Ia selalu berkelindan dengan pengamalan yang profetik. Tak terkecuali dua capres peserta Pilpres 2019, Jokowi dan Prabowo . Saat tim sukses keduanya asyik berkampanye, ada barisan spiritualis yang juga bergiat meski jauh dari sorotan publik.

MENGENAKAN kain sarung, peci putih, lengkap dengan sorban putih yang disandang khas gaya ala kiai kampung, ia melangkah masuk ke Hotel Mahadria, Kota Serang, Banten.

Sejumlah orang yang telah menanti sejak tadi, langsung menyambut sosok itu dengan sungkem. Dia adalah Kiai Haji Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany, Mursyid tarekat Asy-Syadzilkiyah sekaligus pengasuh pondok pesantren Cidahu, Pandegelang - Banten.

Mursyid sejatinya berasal dari kata irsyada yang berarti ”memberi tunjuk-ajar”. Setelah diserap masuk bahasa Indonesia, irsyada berubah penyalinan menjadi mursyid yang menjadi predikat bagi seseorang ahli pemberi petunjuk terutama dalam bidang spiritual dalam kosa kata sufi .

Kiai sepuh bernama kecil Ahmad Muhtadi ini datang untuk memberikan pembekalan kepada para pengurus Santri Millenial—yang di antara mereka biasa disebut akronimnya, SAMIL. Mereka merupakan kelompok santri relawan pendukung Capres dan Cawapres nomor urut 1 Jokowi – Maruf Amin .

Dalam acara pembekalan ini, Abuya Muhtadi tampak didampingi dua kiai dari Nahdatul Ulama, yaitu KH Imam Aziz (Ketua PBNU) dan KH Miftah Faqih (Katib Syuriyah PBNU).

Kiai sepuh ini meminta SAMIL untuk lebih kompak dan menunjukkan sikap gotong-royong dalam kerja-kerja pemenangan Jokowi maupun Maruf Amin yang juga kiai senior NU.

Ia berpesan, SAMIL harus mengedepankan sopan santun dan cara-cara yang bermartabat dalam mengampanyekan petahana di masyarakat. Ujaran kebencian, menyerang lawan dengan fitnah ia haramkan.

“SAMIL yang muda-muda ini harus membantu pemenangan Pak Jokowi – KH Maruf dengan cara-cara yang santun, jangan dengan cara-cara yang tidak baik,” pesan Abuya Muhtadi di Hotel Mahadria, Serang, banten, Jumat (4/2/2019) lalu.  

SAMIL hanyalah komunitas besar yang terdiri para santri, kiai, maupun ulama berasal dari banyak latar belakang tarekat.

Bahkan, relawan dari kalangan pemuda yang tergabung dalam SAMIL, sebagian di antaranya adalah santri dari kalangan tarekat.

Mereka berasal dari tarekat yang berbeda-beda, ada yang tarekat Naqsabandiyah, Qadiriyah, Syatariyah, Syadziliyah dan lainnya.

Kaum Sufi ini mendukung Jokowi – Maruf Amin dengan cara-cara spiritualis. Mereka melakukannya dengan berdoa dan berzikir bersama yang dibimbing langsung oleh mursyidnya.

Ada ayat-ayat khusus yang dilafalkan dalam zikir mereka.

Seorang santri sungkem kepada Kiai Haji Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany, Mursyid tarekat Asy-Syadzilkiyah sekaligus pengasuh pondok pesantren Cidahu, Pandegelang - Banten. [Suara.com/Erick Tanjung]
Seorang santri sungkem kepada Kiai Haji Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany, Mursyid tarekat Asy-Syadzilkiyah sekaligus pengasuh pondok pesantren Cidahu, Pandegelang - Banten. [Suara.com/Erick Tanjung]

Salah seorang di antara keruman santri dalam pembekalan itu adalah Fuad al-Athor. Ia dari tarekat Naqsabandiyah yang mengetuai SAMIL.

Ia mengatakan, santri milenial ini tersebar di seluruh penjuru di Tanah Air. Selain melakoni gerakan spiritual untuk mendukung Jokowi - Maruf Amin, mereka gencar aksi berkampanye melalui media-media sosial.

Melalui media sosial, para santri muda menyebarkan meme maupun konten-konten yang dibingkai dalam poster digital.

Mereka juga giat menangkal informasi hoaks tentang Jokowi – Maruf di sosial media. Namun, mereka tak mau disebut sebagai tim buzzer.

Fuad dan rekan-rekannya memosisikan diri sebagai santri milenial berideologi keislaman dan pandangan kritis.

Bagi Fuad, gerakan spiritual untuk mendukung pemenangan Jokowi – Maruf ini memunyai akar yang jelas. Kaum milenial seperti dirinya, selama ini hanya dijadikan objek untuk perebutan pengaruh.

Secara sosiologis, kata dia, kaum milenial selalu diposisikan sebagai anak muda yang cuek, tidak menghormati tradisi, tidak berfikir kritis, dan tidak merepresentasikan ideologi atau nilai-nilai tertentu.

“Kami berbeda, kami muncul sebagai subyek. Kami milenial, tetapi juga mewakili sebuah tradisi berfikir kritis, mewakili sebuah pandangan politik dan ideologi tertentu atau mazhab, kami kan santri,” kata Fuad kepada Suara.com beberapa waktu lalu.

Narasi-narasi yang dikampanyekan SAMIL di media-media sosial diproduksi sendiri, berdasarkan hasil diskusi dan pemikiran sendiri. Mereka menarget para anak muda dari kalangan pemilih pemula.

“Artinya, di sini, kami bukan orang yang polos tanpa isi, bukan massa mengambang. Di sini kami memimpin, mengajak milenial agar tidak mengambang. Karena bagaimana pun, kita harus tetap punya pegangan, prinsip. Sejauh ini santri milenial berpegang sepenuhnya pada nilai-nilai NU. Misalnya dalam hal khitahnya, cara berfikir, mazhab, haroqah, maupun pergerakannya,” ujar dia.

Seperti kasus pembakaran bendera berlogo tauhid saat perayaan hari santri di Garut, Jawa barat beberapa waktu lalu oleh anggota Banser NU.

SAMIL, kata Fuad, sibuk menangkal narasi-narasi dari kelompok Islam tertentu yang menyudutkan, seolah-olah Banser telah menciderai Islam.

Narasi yang disampaikan SAMIL adalah bicara tauhid jangan terpatok pada simbol. Tauhid adalah proses spritual yang ditanamkan di hati, diikrarkan dengan lafal dan diimplementasikan dalam tindakan.

“Makanya kami menyampaikan ini ke generasi terkini, jangan sampai mereka terbawa, terpengaruh cara berfikir yang provokatif,” ucapnya.

Selain itu, mereka kini tengah menghadapi asumsi-asumsi yang dibangun oleh kelompok konservatif dari kubu Capres dan Cawapres nomor urut 2 Prabowo – Sandiaga.

Asumsi itu misalnya Islam sedang teraniaya, warga muslim bahkan ulama ditindas di rezim yang berkuasa saat ini.

Menurut Fuad, cara berfikir seperti itu diimpor dari ideolog-ideolog Timur Tengah seperti Hasan Al-Banna dan lainnya.

Padahal, pandangan itu tidak relevan dan tidak kontekstual dengan situasi di Tanah Air. Sebab situasi di negara Arab ketika itu tengah terjajah, berbeda dengan Indonesia sekarang.

“Nah dengan hari ini kan enggak konteks, enggak relevan, di mana kita tertindasnya? Kurang bebas apa di negeri ini untuk beribadah. Nah ini ada saja yang kemakan, di antara muslim-muslim, yang percaya pada asumsi ini,” tutur dia.

Selain gerakan operasi udara melalui sosial media, SAMIL juga tengah gencar melakukan operasi di darat.

Untuk operasi di darat, mereka fokus bergerilya di beberapa titik yang tingkat elektabilitas Jokowi – Maruf Amin masih rendah menurut survei.

Beberapa titik itu berada di Kota Bandung, beberapa wilayah Jawa Barat, Banten, Madura dan DKI Jakarta. Melalui operasi darat di akar rumput, SAMIL menyosialisasikan kinerja Pemerintahan Jokowi dan sosok KH Maruf.

“Kami kan sekarang tengah menghadapi air bah hoaks bertubi-tubi di medsos. Tapi sebenarnya kami punya kekuatan yang tidak bisa mereka (lawan) tembus, salah satunya adalah kearifan lokal,” ungkapnya.

Ia memisalkan, para sufi di wilayah Pariangan Timur tak bergerak di bawah bendera SAMIL. Hasilnya tokcer, ”Kami berhasil mengumpulkan dukungan di 7 kabupaten.”

Tak hanya itu, ketika Fuad Cs membuat meme untuk disebar di media sosial, narasi yang disampaikan juga lokalistik.

“Itulah sebenarnya strategi ulama yang ramah pada tradisi, bukan dengan tradisi baru, bukan dengan meniadakan tradisi yang sudah ada, tetapi tradisi itu diberdayakan, dipakai. Kemudian kami lakukan dengan kultur-kultur kesantrian, misalnya ngaliwet bareng,” jelasnya.

Acara pembekalan pengurus SAMIL oleh KH Abuya Muhtadi di Serang Banten pada 4 Februari 2019. Sosok yang berada di tengah adalah kiai sepuh bernama KH Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany. [Suara.com/Erick Tanjung]
Acara pembekalan pengurus SAMIL oleh KH Abuya Muhtadi di Serang Banten pada 4 Februari 2019. Sosok yang berada di tengah adalah kiai sepuh bernama KH Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany. [Suara.com/Erick Tanjung]

Berhadapan dengan Orangtua

Selain itu, kegiatan lainnya SAMIL menggelar kegiatan zikir millenial di sejumlah kota. Zikir millenial ini mereka lakukan untuk menyasar kalangan pemilih pemula. Sebab, berdasarkan survei presentase pemilih pemula cukup signifikan, yakni sebesar 30 persen.

“Kami akan bikin di Kota Bandung, Yogyakarta dan beberapa kota lainnya. Bagaimanapun, secara statistik, minenial ini ternyata presentasenya cukup signifikan,” kata dia.

Fuad menambahkan, SAMIL secara struktural terdaftar sebagai relawan dalam TKN Jokowi – Maruf. Namun, dalam pergerakannya, mereka lebih bebas tak terpatok pada program kerja timses.

“Anggota SAMIL kan para santri, kami didukung oleh para kiai dan ulama. Jadi gerakan kami tidak menyerang lawan, walaupun memang rekan-rekan kami kadang terpancing serangan lawan. Saya selalu bilang ke teman-teman, kita harus sabar, jangan terpancing. Kalau sudah begitu biasanya teman-teman sudah mengerti,” tambah dia.

Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini mengakui, tantangan terbesar mereka saat ini adalah bagaimana mencerahkan kalangan orangtua usia di atas 50 tahun yang termakan isu hoaks tentang Jokowi yang marak di media sosial.  

“Sekarang tantangan kami datang dari orangtua. Karena kalau anak muda ini sudah kritis cara berfikirnya. Nah sekarang orangtua-orangtua sudah pegang gawai, dan ketika informasi hoaks masuk ke mereka, langsung ditelan dan dipercaya. Nah ini masalah, kami harus berhadangan dengan orangtua sendiri,” tuturnya.

Sandiaga Uno. (Suara.com/Ria Rizki Nirmala Sari)
Sandiaga Uno . (Suara.com/Ria Rizki Nirmala Sari)

Indrisiyyah dan Sandiaga

Ketika para sufi pendukung Jokowi bergerak, sang rival, yakni Prabowo terbilang sedikit didukung kalangan tarekat. Justru yang punya kedekatan dengan kalangan sufi adalah wakilnya, Sandiaga Uno.

Sandiaga diketahui merupakan jemaah atau pengikut tarekat Idrisiyyah. Tarekat yang dipimpin oleh Syekh Akbar Muhammad fathurahman sebagai mursyid ini memiliki banyak pengikut.

Pusat tarekat ini di Tasikmalaya, Jawa Barat. Mereka adalah salah satu kelompok massa aktif dalam gerakan bela Islam 212.

Tarekat ini punya rutinitas zikir dan pengajian setiap bulan yang disebut arbain. Kamis, 3 Februari lalu, pengikut tarekat ini menggelar arbain di Masjid Jawiyah Utama Jakarta, yang terletak di Kelurahan Gambir.

Mereka mengawali arbain dengan salat Tahajud sampai Subuh. Dalam zikir berjemaah itu, mereka memanjatkan doa agar Prabowo – Sandiaga terpilih.

Wakil Ketua Jawiyah Utama Jakarta Tarekat Idrisiyyah, Ustaz Muhammad Rizal mengakui, ia dan pengurus lainnya kerap diundang Sandiaga Uno untuk salat Tahajud berjemaah di Masjid Al Taqwa, dekat kediamannya di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Pascapenetapan capres dan cawapres beberapa waktu lalu, Sandiaga juga sempat mengundang khusus mursyidnya, Syekh Akbar Muhammad Fathurahman ke Masjid Al taqwa. 

“Ketika itu, yang disampaikan mursyid kami ke Pak Sandiaga sama seperti waktu Pilkada DKI dulu, yaitu ingat lillah, fillah dan billah. Seusai salat Subuh, Pak Sandi menyampaikan dalam sambutannya, saya diberikan pesan oleh Syekh Akbar: lillah, fillah dan billah,” kata Rizal.

Dia menjelaskan, lillah adalah niat yang suci untuk menjadi pemimpin karena Allah SWT, bukan karena kepentingan lain.

Kemudian fillah, melakukan sesuai syariat, ketentuan Tuhan, dan terakhir billah, yaitu meminta pertolongan Allah.

“Jika lillah-nya telah dipenuhi, fillah-nya telah dipenuhi, maka billah-nya akan datang. Itu tiga prinsip yang dipesankan kepada beliau,” ucapnya.

Syekh Akbar berpesan, siapa pun yang akan terpilih menjadi pemimpin di negara ini sudah menjadi ketetapan Allah. Oleh karena itu, ia mengimbau dalam pemilihan tidak boleh menghalalkan segala cara.

“Jadi tidak boleh memonopoli, harus menang. Menang kalah itu biasa, tapi cara yang dilakukan harus sesuai dengan syariat, mengapa menang kalau dalam murkanya Allah. Dan itu tidak hanya berlaku kepada Pak Sandi, juga berlaku kepada semua jemaah yang jadi caleg. Pesan beliau sama, yaitu lillah, fillah dan billah. Beliau ingin bangsa Indonesia ini cerdas akal dan cerdas hati. Jadi tidak hanya mengejar apa yang diinginkan dengan segala cara, tapi baldatun tiubatun bisa dibangun dengan sikap kedewasaan hati dan sikap kedewasaan fikiran,” terangnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini