Bayi Dua Minggu Diperkosa hingga Alami Luka Fisik

Pria yang dituduh memperkosa bayi itu dan menyebabkan luka fisik awal pekan kemarin menjalani pemeriksaan.

Suara.Com
Vika Widiastuti
Bayi Dua Minggu Diperkosa hingga Alami Luka Fisik
Ilustrasi bayi (Shutterstock)

Suara.com - Seorang bayi dua minggu kini sedang berjuang hidup di rumah sakit karena pemerkosaan yang dialaminya. 

Dilansir HiMedik dari Metro.co.uk, bayi tersebut saat ini berada di unit pediatrik di Rumah Sakit Royal Belfast untuk Anak.

Pria yang dituduh memperkosa bayi itu dan menyebabkan luka fisik awal pekan kemarin menjalani pemeriksaan.

Bayi itu dibawa ke rumah sakit dari daerah Annalong di County Down. Polisi mengatakan bahwa seorang pria berusia 25 tahun ditangkap dan didakwa melakukan pemerkosaan.

Hal ini sedang diselidiki oleh detektif dari Cabang Kriminal bagian Barat.

Melansir dari Hello Sehat, ada beberapa trauma yang bisa dialami korban kekerasan seksual.

Ilustrasi popok bayi - (Unsplash/rawpixel)
Ilustrasi bayi yang menjadi korban pemerkosaan - (Unsplash/rawpixel)

1. Sindrom trauma perkosaan

Sindrom trauma perkosaan (Rape Trauma Syndrome/RTS) adalah bentuk turunan dari PTSD (gangguan stres pasca trauma), sebagai sesuatu kondisi yang memengaruhi korban perempuan. Segera setelah perkosaan, penyintas sering mengalami syok.

2. Gangguan makan

Kekerasan seksual punya pengaruh salah satunya adalah pada gangguan makan. Gangguan makan bisa berupa anorexia nervosa, bulimia nervosa, dan binge eating.

Dalam sebuah penelitian ditanyakan bahwa mereka yang mengalami serangan seksual bisa memiliki hampir lima kali lipat sindrom bulimia atau gangguan makan yang membuat penderitanya mengeluarkan kembali makanannya.

3. Hypoactive sexual desire disorder

Ini merupakan kondisi medis yang menandakan hasrat seksual rendah. Kondisi ini juga umum disebut apatisme seksual atau keengganan seksual.

4. Dyspareunia

Ini adalah nyeri yang dirasakan selama atau setelah berhubungan seksual. Rasa sakit bisa dirasakan dalam vagina, klitoris, atau labia (bibir vagina). (HiMedik.com/Yuliana Sere)

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini