Klaim Ayah Pasung Sang Anak karena Sayang

Meski diperlakukan tidak layak, Suhin mengaku sangat menyayangi anaknya tersebut. Bahkan, dia mengaku tak akan pernah meninggalkan ZKA meski hidup susah.

Suara.Com
Agung Sandy Lesmana | Fakhri Fuadi Muflih
Klaim Ayah Pasung Sang Anak karena Sayang
Suhin (42), bapak bocah yang dipasung, ZKA. (Suara.com/Fakhri)

Suara.com - Suhin (42) mengaku terpaksa memasung ZKA (10), anaknya yang memiliki keterbelakangan mental lantaran kerap merusak barang. Justru, dia mengaku tindakan mengikat anaknya itu di kediamannya di Tangerang Selatan, Banten agar tak menyusahkan keluarga. Bahkan, Suhin menceritakan pernah mengambil barang ketika diajak berbelanja ke minimarket.

Meski diperlakukan tidak wajar, Suhin mengaku sangat menyayangi anaknya tersebut. Bahkan, dia mengaku tak akan pernah meninggalkan ZKA meski hidup susah. 

"Anak saya emang hiperaktifnya itu parah, ada gangguan memang. Tapi saya sih enggak pengen tuh kayak kejadian tempat lain dibuang lah, ditelantarin. Bersyukur saja, kalau ada rezeki saya ajak jalan pakai motor butut, saya pengen anak saya seneng," cerita Sahin di Setu, Tangsel, Jumat (15/3/2019).

Namun, Suhin yang bekerja serabutan itu tetap mengalami kesulitan ekonomi untuk menghidupi keluarganya. Bahkan, sejak ZKA kecelakaan karena kontrakannya kebakaran, ia mengaku utangnya sudah menumpuk. Bahkan, Suhin mengaku hari ini adalah batas waktu pembayaran kontrakannya setelah tiga bulan menunggak.

ZKA yang sempat dirawat selama tujuh bulan karena luka terbakar membuat Suhin sering tidak bekerja. Ia lebih memilih untuk mengurus ZKA di RS. Kondisi Suhin tersebut membuatnya sakit bahkan divonis depresi oleh Dokter.

Sialnya lagi, selama Suhin sedang masa penyembuhan, justru istrinya, Wagiati harus terbaring di RS karena penyakit diabetes. Situasi seperti itu membuat Suhin tidak mau berlama-lama istirahat. Ia memilih untuk fokus bekerja dan mengurusi istrinya.

Anak kedua Suhin sebenarnya juga tidak dalam kondisi yang baik. Anaknya yang berinisial G juga memiliki kelainan jantung yaitu berdetak terlalu cepat. Menurutnya kondisi itu membuatnya bisa kelelahan walau sedang diam.

G yang terlahir lebih beruntung daripada ZKA justru bukan anak yang penurut. Ia sudah tidak masuk sekolah sejak bulan Januari. Bahkan sudah empat hari G tidak pulang ke rumah.

Istrinya yang sedang dirawat, anak keduanya yang jarang pulang, dan ZKA yang gangguan mental membuat situasi kehidupan Suhin begitu runyam.

Akhirnya Suhin membuat keputusan yang sulit baginya. Yakni mengikat kaki ZKA selama ia tidak di rumah. Tujuan Suhin sederhana, ia tidak ingin ZKA celaka atau merugikan siapapun selama Suhin mengurus istrinya dan mencari nafkah.

"Utang saya sudah sejagat, istri saya sakit, anak kedua enggak pulang-pulang, ZKA juga kan hiperaktif. Saya mengikatnya biar saya bisa fokus. Tapi kalau saya di rumah, ikatan saya lepas," jelas Suhin.

Suhin juga mengaku sangat syok kala melihat ZKA tak berada di rumah. Saat itu, Suhin baru pulang dari rumah sakit.  Sontak, Suhin bergegas mencari anaknya sambil bertanya kepada tetangga sekitar rumah. Suhin lalu mendapat kabar dari kantor Kelurahan bahwa rumahnya sempat disambangi Dinas Sosial (Dinsos) Tangsel.

Ternyata Dinsos membawa anaknya yang sedang terikat itu. Suhin sempat menemui anaknya. Cerita Suhin, ZKA langsung memeluknya sambil menangis saat menemuinya. Tapi Suhin memutuskan untuk tidak membawa pulang ZKA.

Menurut Suhin, kondisi ZKA sekarang lebih aman karena diurus Dinsos Tangsel. Justru, dia mengaku akan lebih fokus mengurusi istrinya yang sakit dan lebih giat untuk mencari nafkah.  Setelah kondisinya keluarganya lebih baik, Suhin berharap dapat berkumpul bersama keluarganya lagi.

"Awalnya saya kaget pas tahu ZKA kok enggak ada. Ternyata di Dinsos, tapi ya sudah lebih baik dia di sana jadi saya bisa fokus urusan lain. Mudah-mudahan setelah ini kita bisa kumpul lagi," pungkas Suhin sambil menahan kesedihan.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini