Liputan Khas

Doa dan Lara Tersemat di Guratan Jamari, Pelukis Terakhir Bak Truk

Mau ngapain lagi hidup mas, buat apa dipaksa. Kalau yang kuasa belum berkehendak, sudah, mengalir saja, tutur Jamari.

Suara.Com
Reza Gunadha | Erick Tanjung
Doa dan Lara Tersemat di Guratan Jamari, Pelukis Terakhir Bak Truk
[Suara.com/Ema Rohimah]

Suara.com - Ketika teknologi, aturan hukum, plus takhayul menggerus usahanya, jari-jemari Jamari terus menari mengguratkan gambar eksentrik, terkadang erotik bahkan religius. Di balik gambar, si pelukis terakhir bak truk menyimpan doa dan lara.

PANAS matahari sedang terik-teriknya pada suatu siang di Cibitung, Kabupaten Bekasi, Jawa barat, pekan lalu. Tapi bagi Jamari, semua itu tak soal. Ia terus melukis di pantat truk milik langganannya.

Trotoar pinggiran jalan depan kiosnya, menjadi studio lukis Jamari. Tak ada kursi empuk untuk sang maestro, tapi Jamari tetap khusyuk melukis bak truk sembari lesehan tanpa alas di trotoar.

Tangan kanannya memegang alat sempot airbrush, sementara tangan kiri memegang selang, secara lihai ia menggoreskan cairan cat pada pantat truk.

Tampak sengat detail, semprotannya membentuk gambar seorang wanita dengan rambut terurai dan buah dada setengah telanjang yang menonjol.

Gambar wanita seksi ini terletak di sisi kiri, sedangkan pada sisi pojok kanan, ia menggambar pria berkacamata menatap ke lukisan wanita seronok.

Sementara di bagian tengahnya, Jamari menuliskan kata-kata bahasa Sunda yang terbilang seksis, “Randa Anyaran, Tilas Oge Raos”: Janda Baru, Bekas Tapi Enak.

Truk yang dilukis Jamari disopiri oleh Daud, lelaki berusia 37 tahun. Dia sudah kali ketiga meminta Jamari untuk melukis bokong truk bawaannya.

Daud sendiri baru lima bulan terakhir menjadi sopir truk tersebut. Dua truk sebelumnya yang juga dihiasi lukisan Jamari, telah dikembalikan kepada pemiliknya.

“Setiap truk yang saya sopiri, selalu saya hias pakai lukisan Pak Jamari. Ya murah sih, dia minta Rp 150 ribu, saya tawar jadi Rp 125 ribu,” tuturnya.

Bagi Daud, memunyai lukisan karya Jamari di bagian belakang bak truknya merupakan bentuk kepuasan tersendiri.

Bengkel Jamari, pelukis bak truk di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat. [Suara.com/Erick Tanjung]
Bengkel Jamari, pelukis bak truk di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat. [Suara.com/Erick Tanjung]

Selain itu, Daud mengakui lukisan Jamari di bak truk yang ditungganginya adalah cara ia menghibur pengendara lain di jalanan.

Ia berharap, kombinasi gambar cewek berpakaian seronok dan tulisan menggelitik itu bisa jadi penawar kantuk atau mengusir jenuh orang lain di tengah perjalanan yang acapkali macet.

“Niat saya bikin gambar dan kata-kata di truk ini untuk menghibur orang di jalanan, apalagi saat macet. Jadi orang yang mengintil di belakang jadi melek,” kata Daud.

Daud menjadi sopir sejak remaja, saat masih berusia 18 tahun. Sebelum menjadi sopir truk, ia pernah jadi pengemudi mobil pikap mengangkut sayur-sayuran di Kuningan, Jawa Barat.

Sejak dulu, Daud mengakui sudah menyukai gambar-gambar yang terlukis di pantat truk. “Melihat lukisan di truk itu ada kepuasan tersendiri bagi saya,” ujarnya.

Tergerus Zaman

Sesekali asap rokok mengebul dari mulut Jamari saat melukis bak truk itu. Ia pelukis bak truk yang karyanya beredar di sepanjang jalanan Pulau Jawa.

Seusai melukis pantat truk milik Daud, ia tidur-tiduran di kursi bambu lapuk di dalam bengkelnya. Di atas meja, bergeletakan kopi hitam dalam cangkir seng berukuran kecil, dan asbak rokok.

Pada jemarinya melingkar cincin batu akik, lengan kiri dan kanan terpacak tato. Sambil tiduran, ia meladeni Erik Tanjung—jurnalis Suara.com—berbincang-bincang, meski tak banyak yang ia jelaskan.

Bengkelnya dipenuhi lukisan dari papan. Paling depan, terpajang papan berhiaskan perempuan seronok yang bergaya sedang tiduran dan tulisan “Kutunggu Jandamu”, dan “Hidup Adalah Pilihan”.

Jamari, pelukis bak truk di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat. [Suara.com/Erick Tanjung]
Jamari, pelukis bak truk di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat. [Suara.com/Erick Tanjung]

Kemudian ada gambar perempuan berkerudung dengan tulisan “Doa Ibu”. Sedangkan pada dinding bangunan bengkel, terpampang gambar burung Garuda besar yang bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika.

Pelukis bak truk seperti Jamari kian langka ditemukan. “Saya satu dari sedikit pelukis bak truk yang masih bertahan,” katanya.

Seiring perkembangan teknologi, hiasan gambar di bak truk juga berubah. Selama satu dekade terakhir, hiasan di bak truk tidak lagi didominasi oleh lukisan cat.

Kekinian, banyak sopir yang memilih menghias truknya memakai gambar-gambar dengan teknik cutting stiker. Sebab, harganya relatif lebih murah ketimbang lukisan airbrush seperti yang dilakoni Jamari.

Tak hanya kemajuan teknologi seni lukis bak truk yang menggerus penghasilan Jamari, tapi juga aturan hukum.

Bengkel Jamari, pelukis bak truk di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat. [Suara.com/Erick Tanjung]
Bengkel Jamari, pelukis bak truk di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat. [Suara.com/Erick Tanjung]

Aparat kepolisian melarang sopir menghias truknya memakai lukisan yang terlampau seronok, karena kerap mengalihkan perhatian sehingga memicu kecelakaan lalu lintas.

Belum lagi takhayul yang semakin merasuki banyak sopir truk, bahwa lukisan-lukisan eksentrik cenderung seksis di bak, bakal mengundang bala atau malapetaka terutama kecelakaan.

Namun, pria asal Purwodadi, Jawa Tengah ini tidak takut kehilangan konsumen. Ia tetap bertahan dengan melukis dengan gaya kuno.

Jamari percaya, lukisan yang dibuat manual memiliki daya tarik tersendiri dan tak tergantikan oleh kemajuan teknik yang bertumpu pada teknologi.

“Orang kesenangannya masing-masing, ada yang senang lukisan, ada yang senang stiker. Di dunia ini semuanya sudah ditentukan Allah, kita tinggal menikmati saja,” tutur Jamari.

Ia betul-betul masih mengingat masa kejayaan profesinya. Dulu, ia bisa meraup banyak keuntungan dari melukis bak truk.

Tapi kini, Jamari mengakui sekali melukis di bak truk untuk ukuran yang terkecil dibayar terbilang murah, Rp 150 ribu.

Sementara untuk melukis di bak truk ukuran paling besar, Jamari dibayar Rp 2 juta. Ada pula yang dibayar Rp 2,5 juta, tergantung tingkat kesulitannya.

Untuk mengakali semakin sedikitnya konsumen, Jamari juga melayani panggilan untuk melukis truk ke rumah-rumah juragan.

Bengkel Jamari, pelukis bak truk di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat. [Suara.com/Erick Tanjung]
Bengkel Jamari, pelukis bak truk di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat. [Suara.com/Erick Tanjung]

Jamari kerap pergi ke daerah-daerah, untuk memenuhi permintaan melukis pada badan truk-truk berukuran besar seperti tronton, yang kalau parkir di bengkelnya tak bakalan muat.

“Selain di sini kadang ada panggilan ke rumah-rumah, apalagi yang truk-truk besar. Jadi saya datang ke rumah bos pemilik truk,” ucapnya.

Ia juga harus bersiasat, agar pekerjaannya cepat terselesaikan sehingga tak memakan waktu para sopir truk yang dikejar tenggat jam bekerja.

Dahulu, dia melukis bak truk memakai kuas, namun seiring perkembangan teknologi, ia menggambar menggunakan alat semprot cat airbrush.

Sebab, kalau menggunakan kuas, memakan waktu yang cukup lama, sementara sopir truk butuh cepat.

Bukan Tak Bermakna

Jamari membantah gambar dan kata-kata yang diguratkannya pada bak truk tak memunyai makna apa pun.

Sebaliknya, ia berkukuh bahwa hasil karyanya, paling tidak, bisa menggambarkan suasana perasaan dan problematika kehidupan pribadi sang sopir atau rakyat jelata.

Seperti kisah seorang sopir truk langganannya yang sedang tergila-gila pacaran dengan seorang janda lantaran ditinggal selingkuh oleh istri. Makanya, jadilah ia membuatkan gambar dan tulisan “Janda Muda, Bekas Tapi Enak”.

“Lukisan dan kata-kata itu tergantung isi hati si sopir. Kalau yang memesan adalah bos truk, biasanya lukisannya pakai simbol-simbol, misalnya Usaha Maju Jaya dan sebagainya,” ucap dia.

Lukisan buatannya juga menandakan asal daerah sang sopir. Pengemudi dari wilayah Kuningan, Sukabumi, Cirebon, Lampung dan Medan, misalnya, diklaim Jamari lebih menyukai gambar-gambar perempuan seksi sebagai hiasan bak truk.

Bengkel Jamari, pelukis bak truk di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat. [Suara.com/Erick Tanjung]
Bengkel Jamari, pelukis bak truk di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat. [Suara.com/Erick Tanjung]

Tapi, juga ada sopir-sopir yang suka gambar bernuansa keagamaan, seperti sopir-sopir dari Sumatera Barat, Aceh dan lainnya.

”Saya biasanya melihat sopirnya dulu, bagaimana karakternya, baca dulu. Kalau ‘larinya’ spiritual, langsung saya hantam ke gambar-gambar berdoa, kiai, ustaz, he-he-he,” tutur Jamari.

“Tapi kalau yang datang saya lihat tingkah lakunya begini, saya kasih gambar cewek seksi, ha-ha-ha-ha.”

Jamari menceritakan, melukis adalah kegemarannya sejak kanak-kanak. Lama kelamaan, menjadi kebiasaan, sehingga ia bisa menuangkan banyak fenomena ke dalam bentuk gambar.

Pun ketika melukis menjadi cara Jamari mendapatkan nafkah bagi diri dan keluarganya. Saking terbiasanya, ia mengakui tak lagi memerlukan sketsa awal untuk melukis pantat truk.

“Saya dari SD sudah suka gambar-gambar, senang corat-coret. Dulu pakai arang bekas emak memasak. Sewaktu SD juga berlanjut. Setiap ada kertas atau karton kosong, saya corat-coret,” kenangnya.

Karena itu pula, Jamari tak melulu menilai profesinya tersebut sebagai cara mencari uang. Bagi Jamari, melukis bak truk adalah satu-satunya hiburan diri.

“Ya tak melulu soal uang. Kalau lagi ada pelanggan, ya senang. Kalau kosong, ya kosong saja. Mau ngapain lagi hidup mas, buat apa dipaksa. Kalau yang kuasa belum berkehendak, sudah, mengalir saja,” tuturnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini