Bermalas-malasan Saat Puasa Karena Lapar, Ini Penjelasannya Menurut Hadis

Bolehkah bermalas-malasan saat menjalani puasa karena merasa lapar?

Suara.Com
Rendy Adrikni Sadikin | Chyntia Sami Bhayangkara
Bermalas-malasan Saat Puasa Karena Lapar, Ini Penjelasannya Menurut Hadis
Ilustrasi mengantuk (shutterstock)

Suara.com - Saat menjalani puasa, rasa lapar pasti akan membuat tubuh menjadi lemas hingga akhirnya seseorang merasa lemah dan bermalas-malasan menjalani hari. Namun, bolehkah bermalas-malasan saat puasa dengan alasan lapar?

Suara.com melansir dari NU.or.id, Rabu (8/5/2019), rasa kantuk dan malas yang menyerang seseorang yang sedang berpuasa biasa terjadi saat siang hari. Alih-alih sedang berpuasa, orang itu pun memilih untuk menghabiskan waktu dengan tidur dengan alasan menyimpan energi.

Sikap bermalas-malasan tersebut pun membuat seseorang tidak produktif. Padahal, dalam nasihat Imam Al-Harits Al-Muhasibi menyebutkan setiap orang harus memanfaatkan waktu yang ada dengan produktif.

"Produktifkanlah waktu-waktu dan ketahuilah apa saja yang hilang dari waktumu, siang dan malamnya," (Imam Al Harits Al-Muhasibi, Risalah Al Mustarsyidi, Dar El-Salam halaman 144).

Merujuk pada nasihat tersebut, setiap orang dianjurkan untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Pasalnya waktu juga merupakan salah satu nikmat dari Sang Pencipta yang seringkali kita abaikan.

Dalam Hadis Riwayat Al Bukhari, Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Dua nikmat kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, kesehatan dan waktu luang".

Kisah seorang ulama Islam bernama Syekh Abu Al-Wafa bin 'Uqail Al-Hanbali yang lahir pada 431 Hijriah dan wafat pada 513 Hijriah bisa dijadikan sebagai penyemangat. Semasa hidupnya, ia sangat produktif. Ada salah satu perkataan eliau yang sangat menginspirasi yakni:

"Sesengguhnya aku mengharamkan diriku untuk menyia-nyiakan satu waktu dari umurku, hingga apabila lisanku tidak difungsikan untuk diskusi dan pandanganku untuk menelaah, aku pun menggunakan akalku ketika istirahat sedangkan aku sedang berbaring maka tidaklah aku bangkit melainkan sesuatu yang telah aku rencanakan akan muncul dalam pikiran. Dan sesungguhnya aku mendapati diriku lebih rakus terhadap ilmu ketika usiaku 80 gtahun dibanding ketika 20 tahun". (Imam Al Harits Al-Muhasibi, Risalah Al Mustarsyidi, Dar El-Salam halaman 144).  

Bahkan, dalam perkara makanpun Syekh Abu Al Wafa bin 'Uqail Al-Hanbali  sangat teliti. Ia sama sekali tidak ingin membuang waktu untuk perkara yang tidak penting.

"Aku sangat berusaha mempersempit waktu makanku, hingga aku memilih kue dan membasahinya dengan air dan roti".  (Imam Al Harits Al-Muhasibi, Risalah Al Mustarsyidi, Dar El-Salam halaman 144).  

Semasa hidupnya, Syekh Abu Al-Wafa bin 'Uqail Al-Hanbali  telah menulis kira-kira sebanyak 20 kitab. Salah satu kitab yang ditulis oleh Syekh Abu Al-Wafa bin 'Uqail Al-Hanbali adalah Kitab Al-Funun, sebuah kitab yang sangat tebal dan memiliki banyak manfaat berisi nasihat, tafsir, fiqih, ushul fikih, tauhid, nahwu, gramatikal bahasa syair, sejarah, kisah-kisah dan masih banyak lagi.

Kisah Syekh Abu Al-Wafa bin 'Uqail Al-Hanbali dalam memanfaatkan waktu bisa dijadikan penyemangat untuk kita yang kerap merasa malas saat menjalani puasa. Terlebih selama bulan Ramadan ada banyak amalan yang bisa dikerjakan untuk meningkatkan pahala dari Sang Pencipta.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini