Sehari Puasa Ramadan Bersama Jemaah Ahmadiyah

Kami syariatnya sama, Alqurannya sama, Rasulullahnya Nabi Muhammad SAW. Haji, kami juga sama ke Mekah, bukan ke London. Kakek nenek saya Ahmadiyah juga haji.

Suara.Com
Reza Gunadha | Erick Tanjung
Sehari Puasa Ramadan Bersama Jemaah Ahmadiyah
[Suara.com/Ema Rohimah]

Suara.com - Hujatan, perburuan, maupun diskriminasi tak membuat Kaum Ahmadi di Indonesia kecut, apalagi terbang semangat. Seperti menyiram api memakai air, mereka teguh menunjukkan paras toleran pada bulan Ramadan.

BINAR matahari mulai berpendar di langit selatan Jakarta, memburas panas pada petang, menyilih Magrib, tanda akan memasuki waktu berbuka puasa Ramadan bagi umat Muslim.

Sejumlah jemaah Ahmadiyah Qadian berjajar di depan Masjid Al Mubarak, membagi-bagikan bingkisan takjil berisi kolak dan buah kurma kepada orang-orang yang melintas di sepanjang Jalan Moch Kahfi, Jagakarsa, Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Tak hanya yang dewasa, kanak-kanak warga Ahmadiyah juga tampak senang dan ceria sembari turut membagi-bagikan takjil kepada warga.

Berbagi takjil pada bulan Ramadan ini mereka lakukan setiap akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Dalam waktu 20 menit, seratusan bingkisan takjil ludes.

“Hore... takjil ku habis,” ucap seorang bocah berkerudung 7 tahun, spontan, Sabtu (11/5/2019).

Sementara di lantai bawah masjid, belasan pemuda mengenakan peci hitam maupun berkopiah khas orang-orang Pakistan tampak duduk melingkar.

Mereka berdiskusi tentang kajian Islam dan sejarah para nabi. Tatkala pemuda sebayanya sibuk beraktivitas, nongkrong sambil ngabuburit di kafe maupun mal, mereka memilih berdiskusi menambah pengetahuan.

Pengajian membahas kajian-kajian keislaman ini sudah menjadi tradisi mereka yang rutin dilakukan setiap bulan.  

“Kami mulai jam 16.00 sore sampai jam 18.00 sambil menunggu berbuka puasa. Kalau hari biasa, diskusi rutin ini setiap pekan kedua hari Sabtu dan Minggu, bakda Isya sampai Subuh,” kata Falah Taufiqurrahman, Ketua Pemuda Ahmadiyah Lenteng Agung, kepada Suara.com.

Mahasiswa semester IV Universitas Gunadharma ini aktif menjadi panitia kegiatan ramadan Ahmadiyah di Masjid Al Mubarak.

Ia bersama teman-temannya secara bergantian juga mengisi ceramah ramadan selepas salat Tarawih.

“Kami yang muda-muda secara bergilir mengisi  ceramah Ramadan.”

***

Keesokan hari, Minggu (12/5), menjelang berbuka puasa di Masjid Al Mubarak tampak penuh.

Masjid ini terlihat sedang dalam renovasi. Lantainya baru selesai disemen dan belum terpasang karpet. Namun, tak mengurangi antusiasme mereka mengikuti pengajian.

Pada bagian belakang ruang utama masjid yang disekat pembatas, juga dipadati oleh Ibu-ibu dan remaja putri. Mereka melakukan pengajian yang diisi oleh mubaligh Ahmadiyah bernama Abdul Aziz.

Jemaah Ahmadiyah sedang mendengar ceramah sembari menunggu waktu berbuka puasa Ramadan di Masjid Al Mubarak, Jalan Moch Kahfi, Jagakarsa, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (12/5/2019). [Suara.com/Erick Tanjung]
Jemaah Ahmadiyah sedang mendengar ceramah sembari menunggu waktu berbuka puasa Ramadan di Masjid Al Mubarak, Jalan Moch Kahfi, Jagakarsa, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (12/5/2019). [Suara.com/Erick Tanjung]

Pengajiannya membahas tentang ajaran-ajaran Islam sesuai Alquran dan Alhadis. Pengajian ini berlangsung interaktif, dialog tanya jawab antara warga dan sang mubaligh.

Irvan (38) datang dari Ciracas, Jakarta Timur untuk mengikuti pengajian dan Tarawih di masjid itu. Ia sengaja memilih ikut pengajian dan Tarawih di masjid itu, karena lebih mudah dan dekat aksesnya dari Ciracas, ketimbang ke masjid Ahmadiyah di Duren Sawit.

 “Saya kalau Tarawih sering di sini, yang mudah aksesnya ke sini, tak terlalu macet seperti kalau ke masjid di Duren Sawit,” kata dia.

Encep Aliudin, Ketua Jemaah Ahmadiyah Indonesia Lenteng Agung, menuturkan mereka seperti lazimnya ajaran Islam.

Tak ada yang “aneh” maupun menyimpang seperti yang dituduhkan oleh kelompok intoleran dalam ibadah dan kegiatan jemaah Ahmadiyah selama Ramadan.

Bahkan, mereka mengisi bulan Ramadan dengan menjalani ibadah yang taat sesuai sunah Rasulullah.

"Sebenarnya kami enggak ada perbedaan secara syariat dengan umat Islam lainnya. Cuma satu saja bedanya, kami telah percaya dan meyakini Nabi Isa AS dan Imam Mahdi yang dijanjikan oleh Nabi Besar Muhammad SAW akan ada di akhir zaman telah turun, yaitu pada wujud Hz Mirza Ghulam Ahmad AS. Beliau mendirikan Jemaat Ahmadiyah, itu saja prinsipnya,” tuturnya.

Jemaah Ahmadiyah sedang mengaji sembari menunggu waktu berbuka puasa Ramadan di Masjid Al Mubarak, Jalan Moch Kahfi, Jagakarsa, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (12/5/2019). [Suara.com/Erick Tanjung]
Jemaah Ahmadiyah sedang mengaji sembari menunggu waktu berbuka puasa Ramadan di Masjid Al Mubarak, Jalan Moch Kahfi, Jagakarsa, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (12/5/2019). [Suara.com/Erick Tanjung]

Ia menyambung, “Kami syariatnya sama, Alqurannya sama, Rasulullahnya Nabi Muhammad SAW. Haji, kami juga sama ke Mekah, bukan ke London. Kakek nenek saya Ahmadiyah juga haji.”

Selama Ramadan, warga Ahmadiyah berjemaah melakukan Ta’limul Qur’an bakda salat Subuh yang dibimbing oleh mubaligh Abdul Aziz.

Kemudian, bakda salat Tarawih mereka tadarus, membaca Alquran hingga khatam 30 juz. Setiap malam menyelesaikan membaca alquran satu juz.

Pada bulan Ramadan ini, warga Ahmadiyah dianjurkan untuk melakukan salat Tahajud, salat sunah lainnya dan khatam Alquran.

“Kalau setelah salat Tarawih ada kegiatan one day one juz, satu hari satu juz (tadarus). Setelah salat Tarawih, ceramah, baru kami tadarus, berkelompok ramai-ramai satu juz setiap malam, Insyallah sebulan Ramadan, khatam,” ujar dia.

Encep menuturkan, pengajian warga Ahmadiyah di Masjid Al Mubarak rutin setiap bulan. Pengajian terbagi dari kelompok hudam atau anak-anak muda pada hari Minggu malam.

Sedangkan kalangan bapak-bapak, pengajiannya pada Rabu malam dan Ibu-ibu Rabu siang bakda Ashar.

Jemaah Ahmadiyah sedang mendengar ceramah sembari menunggu waktu berbuka puasa Ramadan di Masjid Al Mubarak, Jalan Moch Kahfi, Jagakarsa, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (12/5/2019). [Suara.com/Erick Tanjung]
Jemaah Ahmadiyah sedang mendengar ceramah sembari menunggu waktu berbuka puasa Ramadan di Masjid Al Mubarak, Jalan Moch Kahfi, Jagakarsa, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (12/5/2019). [Suara.com/Erick Tanjung]

Selain itu, mereka membagikan takjil tiga kali dalam sepekan selama Ramadan di depan masjid. Tapi di dalam masjid, mereka jua menyediakan takjil bagi warga yang datang salat Magrib di sana.

 “Kalau hari kerja sering tidak terduga, banyak orang yang datang ke sini mampir untuk berbuka puasa dan salat Magrib,” jelasnya.

Selain itu, pada tanggal 26 Mei nanti, warga Ahmadiyah Lenteng Agung membagi-bagikan sembako untuk warga kurang mampu di sekitar Masjid Al Mubarak. Bagi-bagi sembako bagi warga kurang mampu itu rutin dilakukan setiap Ramadan.

Juru Bicara Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) Yendra Budiana menjelaskan, warganya juga menggelar donor darah pada bulan Ramadan dengan tema “Gerakan 2.000 Kantong Darah.”

Gerbang Masjid Al Mubarak, Jalan Moch Kahfi, Jagakarsa, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (12/5/2019). [Suara.com/Erick Tanjung]
Gerbang Masjid Al Mubarak, Jalan Moch Kahfi, Jagakarsa, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (12/5/2019). [Suara.com/Erick Tanjung]

Kegiatan donor darah ini berlangsung di beberapa daerah di Indonesia, seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya, Mataram, Gorontalo, Lampung, Palembang dan lainnya.

“Tanggal 25 Mei kami menggelar gerakan donor danah di Jakarta Pusat, kegiatan ini rutin kami lakukan setiap bulan Ramadan,” kata dia.

Khilafat Sang Khalifah

Yendra menambahkan, mereka juga akan menggelar peringatan Hari Khilafat pada 26 Mei mendatang di Masjid Al Hidayah, Kebayoran Lama.

Khilafat yang merupakan peringatan terhadap khalifah mereka sebagai pembawa pembaru, yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Kegiatan ini akan dihadiri oleh Amir Nasional JAI, Abdul Basith. 

Encep menjelaskan, setelah Mirza Ghulam Ahmad wafat, kini khalifah Ahmadiyah yang kelima bernama Mirza Masrur Ahmad dan berkedudukan di London, Inggris.

Mirza Masrur Ahmad terpilih menjadi khalifah Ahmadiyah pada 2003, melalui pemilihan oleh perwakilan dari orang-orang terpilih yang dinilai suci.

Namun, lanjut dia, khilafah Ahmadiyah berbeda dengan konsep khilafah yang diperjuangkan oleh kelompok seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan kelompok Islam radikal.

“Khilafah Ahmadiyah bersifat spiritual, bukan teritorial. Khilafah kami tidak mengurus politik dan pemerintahan, sehingga dalam kasus tertentu, kami warga Ahmadiyah memegang prinsip asas Indonesia, Pancasila,” tuturnya.

Ia mencontohkan, “Misalnya Indonesia perang dengan Pakistan, kami tetap mempertahankan negara Indonesia, meskipun Khilafah kami dari Pakistan. Sebagai warga negara, kami wajib membela negara. Itu yang tidak dipahami orang-orang,” jelasnya.

***

Keberadaan warga Ahmadiyah dan Masjid Al Mubarak tidak memunyai kendala dalam kehidupan sosial dan keagamaan dengan masyarakat setempat. Masjid itu sudah berdiri sejak awal-awal kemerdekaan, pada tahun 1950-an.

“Kami dengan warga di sini tak pernah ada masalah, di sini aman. Saya lahir di sini, tanah di masjid ini hibah dari kakek saya (warga Ahmadiyah). Lahan masjid ini semua 975 meter persegi, tanah dari kakek saya 350 meter persegi, sisanya dibeli oleh jemaah,” tuturnya.

Selain warga Ahmadiyah Lenteng Agung, kelompok komunitas Ahmadiyah Depok juga kerap salat Jumat dan Tarawih Ramadan di Masjid Al Mubarak.

Anggota komunitas Ahmadiyah Lengteng Agung sebanyak 620 orang yang terbagi dari kelompok Pasar Minggu, Pasar rebo, Srengseng dan Gabun.

Jemaah Ahmadiyahberbagi takjil sembari menunggu waktu berbuka puasa Ramadan di Masjid Al Mubarak, Jalan Moch Kahfi, Jagakarsa, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (12/5/2019). [Suara.com/Erick Tanjung]
Jemaah Ahmadiyahberbagi takjil sembari menunggu waktu berbuka puasa Ramadan di Masjid Al Mubarak, Jalan Moch Kahfi, Jagakarsa, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (12/5/2019). [Suara.com/Erick Tanjung]

“Kalau hari biasa, salat Jumat juga, banyak orang luar di sini yang ikut salat,” katanya.

Meski begitu, pensiunan karyawan BUMN ini prihatin atas kondisi warga Ahmadiyah di Depok, karena masjidnya masih disegel oleh pemerintah daerah setempat.

Menurutnya, penolakan bahkan penyerangan dan pengusiran warga Ahmadiyah yang terjadi di beberapa daerah seperti di Lombok NTT, Tasikmalaya, Kuningan, Depok dan lainnya itu karena provokasi pihak tertentu.

Ia berharap, kelompok minoritas dihargai dan dilindungi oleh pemerintah. Tak cuma Ahmadiyah, tapi juga Muslim Syiah dan lainnya juga harus dilindungi. Sebab menurutnya, adalah hak setiap warga negara dilindungi oleh konstitusi.

“Jangan sampai hak konstitusi itu dikalahkan oleh kelompok tertentu (intoleran),” kata bapak tiga anak ini.

[Suara.com/Ema Rohimah]
[Suara.com/Ema Rohimah]

Komentar

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini