Ini Sosok Anastasio Somoza, Eks Diktator Nikaragua yang Dikutip Tim Prabowo

Siapa Anastasio Somoza yang dikutip oleh Tim Kuasa Hukum Prabowo dalam sidang di MK?

Suara.Com
Rendy Adrikni Sadikin | Chyntia Sami Bhayangkara
Ini Sosok Anastasio Somoza, Eks Diktator Nikaragua yang Dikutip Tim Prabowo
Eks diktator Nikaragua Anastasio Somoza Garcia (wikipedia)

Suara.com - Ketua Tim Kuasa Hukum pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, Bambang Widjojanto membacakan gugatan dalam sidang perdana Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pilpres 2019.

Dalam pembacaan gugatan, pria yang kerap disapa BW sempat menyinggung mengenai sosok eks diktator Nikaragua Anastasio Somoza. Semasa memimpin Nikaragua, Anastasio Somoza menyatakan "Indeed, you won the elections but I won the count (Memang Anda memenangkan pemilihan, tetapi saya memenangkan hasil penghitungan)".

"Kalimat itu dimaknai bahwa kekuasaan diktator punya kekuatan dan otoritas untuk melakukan apa saja yang dikehendakinya dengan melakukan berbagai manipulasi, kecurangan, rekayasa seluruh fasilitas dan infrastruktur kekuasaan, untuk kepentingan dirinya sendiri dan kelompoknya guna memenangkan proses Pemilu," kata BW dalam persidangan di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jumat (14/6/2019).

Lantas, siapa sesungguhnya sosok Anastasio Somoza yang dikutip pernyataannya oleh BW?

Berdasarkan hasil penelusuran Suara.com dari berbagai sumber, Anastasio Somoza Garcia merupakan seorang pimpinan diktator yang sangat melegenda di Nikaragua. Ia lahir pada 1 Februari 1896.

Anastasio Somoza Garcia menjadi Kepala Garda Nasional (Guardia) Nikaragua. Ia memimpin gerakan kudeta dan berhasil menggulingkan pemerintahan Presiden Sacasa pada 1936 dengan perolehan suara yang sangat tinggi.

Ia menjadi salah satu orang terkaya di Amerika Latin dengan total kekayaan diperkirakan mencapai 60 juta dolar Amerika Serikat. Bahkan 40 persen perekonomian Nikaragua dan 30 persen lahan subur dikuasai oleh Anastasio Somoza.

Anastasio Somoza dikenal sebagai sosok yang antipati terhadap masyarakat kecil. Selama masa kepemimpinannya, ia hanya fokus dalam peningkatan kekuatan dan kekayaan pribadi dan politik.

Hampir seluruh institusi di Nikaragua mulai dari militer, polisi, pengadilan, kantor pos hingga transportasi dikuasai oleh keluarga Anastasio Somoza.

Sebagai sekutu Amerika Serikat, ia banyak mendapatkan keuntungan selama menjabat sebagai presiden. Berbagai perusahaan nasional pun berada di bawah kekuasaan Anastasio Somoza.

Selama kurun waktu 1946 hingga 1976, Anastasio Somoza menerima program bantuan militer dengan total lebih dari 29 juta dolar Amerika Serikat dan bantuan ekonomi sebesar 300 juta dolar Amerika Serikat. Bantuan yang diterima tersebut digunakan untuk memlei berbagai perlengkapan militer dari Amerika Serikat dan Israel.

Pada 21 September 1956, Anastazio Somoza ditembak orang tak dikenal. Ia menghembuskan napas terakhirnya sepekan kemudian. Posisi presiden dilanjutkan oleh anaknya, Luis Somoza Debayle kemudian dilanjutkan oleh Anastasio Somoza Debayle hingga 1979.

Komentar

Baca Juga

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini