Ridwan Kamil Soal Pidato Jokowi : Ingatkan Tantangan Bangsa di Masa Depan

Ibu kota bukan hanya simbol atau identitas bangsa, tapi representasi kemajuan bangsa.

Suara.Com
Fabiola Febrinastri
Ridwan Kamil Soal Pidato Jokowi : Ingatkan Tantangan Bangsa di Masa Depan
Gubernur Jabar, Ridwan Kamil menyaksikan pidato kenegaraan yang disampaikan Presiden R,) Joko Widodo (Jokowi), dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 RI, di Gedung DPRD Jabar, Kota Bandung, Jabar, Jumat (16/8/2019). (Dok : Pemdaprov Jabar)

Suara.com - Gubernur Jawa Barat (Jabar), Ridwan Kamil menyaksikan pidato kenegaraan yang disampaikan Presiden R,) Joko Widodo (Jokowi), dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 RI, di Gedung DPRD Jabar, Kota Bandung, Jabar, Jumat (16/8/2019).

Menurut Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, pidato yang disampaikan oleh Presiden Jokowi di hadapan anggota DPR dan DPD itu mengingatkan bangsa ini tentang tantangan yang akan dihadapi Indonesia di masa depan.

"Salah satu (tantangan) persiapan bangsa Indonesia menghadapi revolusi 4.0 yang mungkin menghilangkan pekerjaan, tapi juga menghadirkan pekerjaan-pekerjaan baru, SDM (Sumber Daya Manusia) harus disiapkan," kata Emil.

"Kerja sama lembaga diperkuat, kemudian peraturan-peraturan dari pusat sampai daerah yang bukan soal kuantitasnya tapi juga kualitas," tambahnya.

Emil pun mengatakan, kualitas aturan yang diharapkan Presiden Jokowi sejalan dengan upaya yang dilakukan Pemerintah Daerah Provinsi (Pemdaprov) Jaabar melalui semangat reformasi birokrasi.

"4.0 kita siapkan. Bahkan kita ada rencana MoU (nota kesepahaman) membuat SMK 4.0 di Purwakarta, yang sedang kita siapkan sebagai prototype," ujar Emil.

Presiden Jokowi menyampaikan pidato kenegaraan berdurasi sekira 30 menit dengan mengenakan pakaian adat Sasak dari Nusa Tenggara Barat. Di awal pidatonya, Jokowi meneguhkan semangat para pendiri bangsa bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta atau Pulau Jawa.

"Indonesia adalah seluruh Tanah Air, dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas hingga Pulau Rote," ucap Jokowi.

Untuk itu, menurut Jokowi, pembangunan yang dilakukan harus Indonesia sentris, bukan Jawa sentris.

"Indonesia maju bukan hanya karya presiden, wapres, legislatif ataupun karya yudikatif, tapi keberhasilan Indonesia adalah hasil karya pemuka agama, pendidik, pelaku usaha, buruh, pedagang, nelayan, serta seluruh karya anak bangsa," tegasnya.

Selain itu, manajemen, sistem, dan tata kelola pemerintahan harus dibangun dengan baik, bukan melalui prosedur yang panjang.

"Tata kelola pemerintahan yang baik, bukan dilihat dari tata kelola yang panjang, tapi dari prosedur yang cepat dan sederhana yang bisa mendorong kecepatan dan lompatan kemajuan," ucap Jokowi.

Pemindahan Ibu Kota
Di akhir pidato kenegaraannya, Presiden Jokowi minta izin di hadapan para anggota DPR dan DPD untuk memindahkan ibu kota negara ke Kalimantan. Namun, Jokowi tidak menyebut secara jelas, daerah mana yang akan menjadi ibu kota pengganti Jakarta.

Menurut Presiden, ibu kota bukan hanya simbol atau identitas bangsa, tapi representasi kemajuan bangsa. Hal itu dilakukan untuk mewujudkan pemerataan ekonomi dan visi Indonesia maju.

Menanggapi rencana pemindahan ibu kota, Emil mengatakan bahwa pihaknya tidak mempermasalahkan hal itu. Bahkan, kata Emil, pemindahan ibu kota mencerminkan Indonesia sentris.

"Tidak ada masalah, itu untuk kepentingan bangsa. Indonesia ini tidak boleh Jawa sentris, tapi harus Indonesia sentris. Maka dengan pesan pemindahan ibu kota, itu mengindikasikan semangat Indonesia sentris," kata Emil.

Emil pun menegaskan bahwa Jabar akan terus memainkan perannya dengan baik untuk masyarakat dan bangsa,meskipun ibu kota negara pindah ke Kalimantan.

"Jawa Barat mengikuti sejarah. Pada saat menyangga ibu kota, kita akan berperan dengan baik. Pada saat nanti Jakarta hanya sebagai pusat ekonomi bukan ibu kota lagi, kita juga akan menjalankannya dengan baik," ujar Emil mengakhiri.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini